Takut Disadap, Rombongan Trump Buang Semua Barang dari China Sebelum Pulang ke AS

1 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kunjungan Presiden Amerika (AS) Serikat Donald Trump ke China ternyata menyisakan cerita mengejutkan di balik agenda diplomatik tingkat tinggi antara Washington dan Beijing. Pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping jadi sorotan dunia.

Trump datang ke Beijing dengan harapan besar membawa pulang kesepakatan konkret terkait perdagangan hingga pasokan logam tanah jarang. Namun, meski sempat tercapai pembahasan mengenai kedelai dan pesawat Boeing, rombongan Gedung Putih justru meninggalkan China tanpa membawa barang apa pun dari negeri tersebut.

Bahkan, suvenir dan hadiah resmi dari pejabat China pun ikut dibuang sebelum rombongan menaiki Air Force One untuk kembali ke AS.

Langkah ekstrem itu dilakukan karena kekhawatiran terhadap potensi penyadapan dan spionase siber dari China. Delegasi AS disebut mendapat instruksi tegas bahwa tidak boleh ada barang asal China yang dibawa masuk ke dalam pesawat kepresidenan.

Aturan itu diterapkan langsung oleh tim keamanan Gedung Putih dan Dinas Rahasia AS di landasan bandara Beijing.

Koresponden New York Post, Emily Goodin, menyampaikan seluruh barang pemberian pejabat China dikumpulkan lalu dibuang ke tempat sampah sebelum keberangkatan.

- Advertisement -

Staf Amerika mengambil semua yang diberikan oleh pejabat Tiongkok – kredensial, telepon genggam dari staf Gedung Putih, pin untuk delegasi – mengumpulkannya sebelum kami naik AF1 dan membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga. Tidak ada barang dari Tiongkok yang diizinkan masuk ke pesawat,” kata Goodin dalam cuitannya dikutip dari India Today, Minggu, (7/5/2026).

Barang-barang yang dibuang disebut mencakup telepon genggam, lencana delegasi, undangan pers, hingga berbagai kenang-kenangan resmi selama kunjungan dua hari tersebut.

Praktik semacam ini sebenarnya bukan hal baru bagi delegasi AS saat berkunjung ke China. Namun, kali ini, proses pembuangan barang dilakukan secara terbuka dan memicu perhatian luas di media sosial.

Kekhawatiran Washington terhadap aktivitas spionase Beijing memang telah lama menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. Bahkan sebelum meninggalkan China, Trump secara terbuka mengakui bahwa praktik saling memata-matai sudah menjadi bagian dari hubungan AS dan China.

“Itu salah satu hal karena kami juga memata-matai mereka habis-habisan,” kata Trump, belum lama ini.

Sindiran pun bermunculan setelah insiden tersebut viral di media sosial. Salah satunya datang dari analis geopolitik Jurgen Nauditt yang menyebut China sebagai “satu-satunya negara yang tidak akan menerima suap atau hadiah dari Trump”.

Kecurigaan terhadap hadiah diplomatik asal China juga bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul berbagai laporan dugaan perangkat pengawasan yang disembunyikan dalam barang pemberian resmi.

Pada 2023 misalnya, sebuah alat penyadap dilaporkan ditemukan di dalam teko yang diberikan kepada staf Kedutaan Inggris di Beijing.

Langkah pengamanan delegasi AS ternyata tidak berhenti pada pembuangan barang-barang hadiah saja.

Trump dan rombongannya, termasuk CEO NVIDIA Jensen Huang serta bos Tesla Elon Musk, bahkan disebut meninggalkan perangkat elektronik pribadi mereka di AS sebelum terbang ke China.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan telepon sekali pakai dan alamat email sementara selama kunjungan berlangsung demi meminimalkan risiko peretasan.

Ponsel pribadi para delegasi juga disimpan di Air Force One menggunakan kantung Faraday, yakni pelindung khusus yang mampu memblokir sinyal GPS, Wi-Fi, Bluetooth, hingga RFID agar tidak bisa diretas dari jarak jauh.

Perangkat ‘bersih’ yang dipakai selama kunjungan hanya memiliki fungsi dasar dan dirancang untuk menyimpan informasi seminimal mungkin.

Meski di depan publik Trump dan Presiden China Xi Jinping tampak akrab selama pertemuan dua hari itu, ketegangan disebut tetap terasa di balik layar.

Seorang reporter Fox News bahkan mengungkap adanya bentrokan panas dan fisik antara pejabat China dengan agen keamanan AS. Begitu pun wartawan AS terkait protokol pengamanan selama kunjungan berlangsung.

Insiden tersebut semakin memperlihatkan bahwa rivalitas Washington dan Beijing bukan hanya soal perdagangan dan teknologi, tetapi juga perang kepercayaan di level keamanan dan intelijen.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU