Usianya 600 Tahun, Angklung Gubrag dari Bogor Masih Aktif Dimainkan hingga Sekarang

0 Shares

BOGOR, HOLOPIS.COMAngklung Gubrag asal Bogor yang berusia 600 tahun masih aktif dimainkan dan tampil memukau di Kirab Budaya.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan masuknya budaya populer, masyarakat adat Kampung Cipining, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor masih mempertahankan salah satu warisan budaya tertua mereka, yakni Angklung Gubrag.

Kesenian tradisional yang diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun itu hingga kini masih aktif dimainkan dan diwariskan secara turun-temurun.

Eksistensi Angklung Gubrag kembali menjadi sorotan publik saat tampil dalam rangkaian Kirab Budaya Mahkota Binokasih di Kota Bogor, Jumat (8/5/2026) malam.

Penampilan kelompok masyarakat adat Kampung Cipining sukses menarik perhatian warga yang memadati jalur kirab budaya.

Suara angklung yang berpadu dengan tabuhan dogdog atau kendang kecil tradisional khas Sunda menciptakan nuansa sakral sekaligus meriah di sepanjang acara.

- Advertisement -

Penampilan mereka menjadi salah satu atraksi budaya yang paling mencuri perhatian dalam kirab tersebut.

Pelestari Angklung Gubrag, Ki Jawer, mengatakan kesenian tersebut bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat adat Kampung Cipining.

“Keseniannya Angklung Gubrag. Angklung Gubrag khas Kampung Cipining,” ujar Ki Jawer saat ditemui di sela kegiatan kirab budaya.

Menurutnya, Angklung Gubrag memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan tradisi pertanian masyarakat Sunda tempo dulu.

Kesenian itu dipercaya lahir dari ritual penyambutan Dewi Padi yang menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran.

Dalam tradisi masyarakat agraris Sunda, Dewi Padi dipercaya sebagai lambang kehidupan yang membawa hasil panen melimpah bagi masyarakat.

Karena itu, Angklung Gubrag kerap dimainkan dalam berbagai ritual adat yang berkaitan dengan pertanian.

“Angklung ini diciptakan dalam prosesi penyambutan Dewi Padi,” katanya.

Ki Jawer menjelaskan, nama “Angklung Gubrag” memiliki makna filosofis tersendiri.

Kata “angklung” berasal dari istilah “angkleung” yang berarti jauh.

Nama itu merujuk pada Pasir Angkleung, gunung yang berada paling jauh dari kampung mereka.

Sementara kata “Gubrag” memiliki arti jatuh.

Makna tersebut dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat tentang turunnya Dewi Padi ke bumi sebagai simbol keberkahan.

“Gubrag itu jatuh, dikaitkan dengan turunnya Dewi Padi,” jelasnya.

Hingga saat ini, Angklung Gubrag masih rutin dimainkan dalam berbagai kegiatan adat dan tradisi masyarakat.

Mulai dari pesta panen raya, ritual penanaman padi, sedekah bumi, hingga acara tolak bala.

Bagi masyarakat adat Kampung Cipining, memainkan Angklung Gubrag bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tetapi juga bagian dari menjaga hubungan spiritual dengan alam dan leluhur mereka.

Selain menggunakan alat musik angklung bambu, pertunjukan juga diiringi alat musik tradisional lain seperti dogdog atau dodog, yakni kendang kecil berbentuk panjang yang menghasilkan irama khas Sunda.

Ki Jawer mengaku dirinya merupakan ahli waris keturunan ke-12 yang masih menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.

Ia bersama kelompok masyarakat adat lainnya terus berupaya mengenalkan Angklung Gubrag kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

“Masih aktif sampai sekarang. Saya selaku ahli waris keturunan yang ke-12. Terhitung Angklung Gubrag ini 600 tahun usianya,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan sejarah Angklung Gubrag juga masih dapat ditelusuri melalui situs purbakala hingga makam penciptanya yang berada di wilayah Kampung Cipining.

Kelompok masyarakat adat Kampung Cipining sendiri diketahui kerap mengikuti berbagai agenda budaya di sejumlah daerah di Jawa Barat.

Penampilan mereka di Kota Bogor menjadi bagian dari rangkaian Kirab Budaya Mahkota Binokasih yang telah digelar di beberapa wilayah sebelumnya.

Kirab budaya tersebut diikuti puluhan komunitas seni dan budaya yang menampilkan kekayaan tradisi Sunda dari berbagai daerah.

Antusiasme masyarakat pun terlihat tinggi sejak sore hari dengan memadati sejumlah ruas jalan yang dilalui peserta kirab.

Bagi masyarakat adat Kampung Cipining, keikutsertaan dalam kirab budaya menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan Angklung Gubrag kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

Di tengah perkembangan era digital dan hiburan modern, mereka berharap kesenian tradisional warisan leluhur itu tetap hidup dan terus dikenal sebagai bagian penting dari identitas budaya Sunda.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU