HOLOPIS.COM, Jakarta – Surat siswi SD di NTT ke Prabowo viral di medsos. Netizen soroti MBG yang dinilai lebih banyak jalan di kota, daerah 3T masih tertinggal.
Surat terbuka seorang siswi SD di wilayah terpencil Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada Presiden Prabowo Subianto viral di media sosial.
Surat itu tidak hanya menyentuh hati publik, tetapi juga memicu gelombang kritik keras dari netizen terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai belum merata dan masih terpusat di kota-kota besar.
Siswi kelas 5 SD Compang Ngeles, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, bernama Myscha, sebelumnya menuliskan surat yang mempertanyakan mengapa sekolahnya belum pernah mendapatkan program MBG, meski di daerah lain program tersebut sudah berjalan.
“Di TV dan YouTube saya lihat daerah lain sudah lama jalan. Teman-teman sudah makan, tapi di sekolah kami sampai hari ini belum ada,” tulisnya.
Surat sederhana itu kini menjadi viral dan memicu perdebatan panas di media sosial.
Netizen Berkomentar
Kolom komentar di berbagai platform media sosial langsung dipenuhi kritik tajam dari warganet.
Banyak yang menilai program MBG belum menyentuh daerah 3T secara serius, dan hanya terlihat aktif di wilayah perkotaan.
Berikut sejumlah komentar netizen yang ramai beredar:
“Setiap ada program baru pasti ramai di kota besar dulu, desa mah nunggu. Klasik banget,” cuit @suara.rakyat.id.
“MBG ini kayaknya cuma jadi konten seremoni aja di kota-kota,” tambah @anakrantau88.
“Daerah 3T selalu jadi penonton. Program bagus tapi distribusinya nggak jalan,” cetus @kritiktajam
“Jangan-jangan anggaran numpuk di pusat dan kota, makanya desa nggak kebagian,” sebut @warganet.jujur
“Ini bukan pertama kali. Program apa pun ujungnya macet di daerah terpencil,” tukas @realita.indonesia.
Sejumlah komentar lain bahkan menyinggung dugaan adanya ketidakefisienan hingga potensi penyimpangan dalam penyaluran anggaran, meski tidak disertai bukti resmi.
Viralnya surat ini kembali membuka diskusi publik mengenai kesenjangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan daerah 3T.
Banyak pihak menilai bahwa program-program nasional kerap lebih cepat terlihat di kota, sementara wilayah terpencil tertinggal dalam implementasi.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Timur terkait surat terbuka tersebut.
Namun, tekanan publik di media sosial terus meningkat, dengan banyak netizen mendesak agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi program MBG agar tidak hanya menjadi “program kota besar”.



