Trump Ingin Perpanjang Gencatan, Iran: Pihak yang Kalah Tak Dapat Mendikte Persyaratan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran memperlihatkan strategi tekan sambil negosiasi. Klaim perpanjangan gencatan senjata sepihak itu memicu respons keras dari Teheran.

Di tengah ancaman militer yang masih terbuka, Trump secara sepihak mengumumkan penundaan serangan. Namun, tetap mempertahankan tekanan maksimal melalui blokade dan kesiapan militer.

- Advertisement -

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut keputusan itu diambil untuk memberi ruang bagi Iran menyusun proposal damai.

Trump mengklaim perpanjangan gencatan itu atas permintaan Pakistan sebagai mediator Utama. Menurut dia, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sudah meminta AS untuk menahan serangan terhadap Iran.

- Advertisement -

Oleh karena itu, saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu. Dan, oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara,” tulis Trump dikutip pada Rabu, (22/4/2026)

Alih-alih meredakan ketegangan, langkah itu justru memicu kecurigaan dari pihak Iran.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bersama lingkaran dalamnya menilai perpanjangan gencatan senjata bukan sinyal damai. Tapi, melainkan strategi untuk mengulur waktu.

Penasihat parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, bahkan secara tegas menyebut langkah AS sebagai ancaman terselubung. Ia menyindir AS sebagai pihak yang kalah perang.

Pihak yang kalah tidak dapat mendikte persyaratan,” tulis Mahdi Mohammadi di media sosial.

Ia juga menyebut kebijakan tersebut sebagai taktik untuk mengulur waktu bagi serangan mendadak. Dia menekankan Teheran sudah seperti mengalami rendahnya kepercayaan terhadap Washington.

Situasi semakin panas setelah retorika agresif dari Washington meningkat. Trump sebelumnya berkoar-koar menyatakan militer AS siap untuk bertindak. Sementara, target serangan disebut bisa mencakup infrastruktur vital Iran.

Di sisi lain, elite Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menunjukkan kemarahan atas pernyataan Trump yang dinilai terlalu jauh, termasuk klaim kemenangan sepihak.

Dampaknya langsung terasa di kawasan strategis seperti Strait of Hormuz, yang sempat kembali ditutup oleh Iran—padahal sebelumnya telah dibuka oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Di tengah eskalasi, Shehbaz Sharif berupaya menjadi penengah. Ia menyampaikan apresiasi atas keputusan Trump dan menegaskan komitmen Pakistan untuk mendorong penyelesaian damai.

Namun, sinyal positif ini tidak cukup meredakan kebuntuan. Iran bahkan menegaskan belum mengirim delegasi ke Islamabad dan menolak negosiasi di bawah tekanan. “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” tulis Ghalibaf.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru