HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mempertegas komitmennya dalam mentransformasi industri fesyen nasional menuju ekosistem yang lebih berkelanjutan. Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor dalam program Dressponsible Vol. 2 yang diselenggarakan di Auditorium Museum Bank Indonesia, Jakarta, pada Sabtu, 18 April 2026.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas menjadi kunci utama guna mempercepat transisi tersebut. Pihak kementerian akan terus berupaya memperkuat narasi keberlanjutan melalui penyediaan ruang kolaborasi yang lebih luas.
Transformasi ini juga didukung dengan penguatan literasi publik secara konsisten agar pemahaman mengenai fesyen ramah lingkungan semakin merata. Program Dressponsible Vol. 2 sendiri merupakan inisiatif edukatif berbasis proyek akhir mahasiswa London School of Public Relations (LSPR).
Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak buruk industri fast fashion yang selama ini menjadi perhatian global. Selain itu, kegiatan ini mengajak konsumen untuk mulai beralih ke pola konsumsi yang lebih bijak dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Mengusung pesan utama “Dress Smart, Stay Responsible”, acara ini diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai latar belakang. Peserta mencakup perwakilan pemerintah, awak media, pembuat konten, hingga pelaku industri kreatif dan akademisi.
Plt. Direktur Fesyen Kementerian Ekraf, Romi Astuti, memberikan apresiasi tinggi terhadap gerakan yang dimotori oleh kalangan mahasiswa tersebut. Dalam sesi konferensi pers, ia menyatakan bahwa program ini menjadi ruang kampanye penting bagi tren circular fashion di Indonesia.
Romi juga menyoroti pentingnya mempopulerkan penggunaan pakaian bekas (secondhand) serta konsep capsule wardrobe sebagai solusi praktis. Ia menekankan peran vital generasi muda dalam memperluas dampak isu ini melalui media sosial dan publikasi akademik sebagai corong edukasi.
Dukungan senada datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kepala Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Endrati Fariani, mengungkapkan bahwa subsektor fesyen merupakan penggerak ekonomi daerah yang sangat potensial.
Pertumbuhan ekonomi kreatif di Jakarta saat ini mencapai 6,6 persen, angka yang melampaui pertumbuhan PDRB Jakarta sebesar 4,40 persen. Endrati menilai inovasi dari mahasiswa dalam memanfaatkan ruang publik sangat krusial untuk mempromosikan gaya hidup berkelanjutan kepada khalayak luas.
Pihak Museum Bank Indonesia (MUBI) menyatakan kesiapannya untuk terus menjadi jembatan dialog bagi isu-isu yang relevan bagi masyarakat. Kepala MUBI, Rio Wardhanu, menjelaskan bahwa melalui pilar edukasi dan inklusivitas, museum berkomitmen mendukung kegiatan yang berdampak sosial positif.
Sebagai bentuk komunikasi kreatif, Dressponsible Vol. 2 menampilkan iklan layanan masyarakat bertajuk “Dibalik Tren”. Acara kemudian dilanjutkan dengan trunk show dari sejumlah jenama lokal seperti Arjun Putra, Allemonq, Adrie Basuki, dan Limittes yang menampilkan karya fesyen aplikatif.
Sekretaris Program Studi Komunikasi LSPR, Melvin Bonardo Simanjuntak, menambahkan bahwa mahasiswa diberikan kebebasan penuh dalam merancang format tugas akhir mereka. Diharapkan, serangkaian alat komunikasi ini mampu mendorong perubahan perilaku konsumen demi menjaga kelestarian lingkungan di masa depan.

