HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah riuh Lebaran Betawi 2026, Fauzi Bowo menyinggung “anter-anteran”, tradisi lama ini ternyata menyimpan pesan halus di Jakarta Modern.
Perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng kembali menampilkan salah satu tradisi khas masyarakat Betawi, yaitu anter-anteran atau hantaran.
Tradisi ini menjadi sorotan setelah mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menegaskan makna utamanya sebagai simbol penghormatan, bukan praktik yang berkaitan dengan gratifikasi.
Acara yang berlangsung pada 10–12 April 2026 tersebut diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Mengusung tema “Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan Dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”, kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
Dalam rangkaian acara, prosesi anter-anteran digelar sebagai bagian utama perayaan.
Delegasi dari berbagai wilayah administratif di Jakarta membawa hantaran berupa makanan dan hasil olahan khas untuk diserahkan kepada pejabat daerah, termasuk gubernur dan pimpinan DPRD. Prosesi ini dilakukan secara simbolis di hadapan publik.
Fauzi Bowo menyatakan bahwa tradisi anter-anteran memiliki akar kuat dalam budaya Betawi dan telah berlangsung lintas generasi.
Ia menilai terdapat kesalahpahaman di masyarakat yang mengaitkan praktik ini dengan gratifikasi.
“Ini bukan gratifikasi. Ini bagian dari adat istiadat yang mencerminkan rasa hormat,” ujar Fauzi Bowo.
Asal Kata
Mengacu pada kajian Lembaga Kebudayaan Betawi, istilah hantaran berasal dari kata “antar” yang mengalami perubahan fonetik dalam dialek Betawi menjadi “hantar” atau “hantaran”.
Secara umum, hantaran merujuk pada kebiasaan mengirimkan sesuatu kepada kerabat, orang tua, atau tokoh yang dihormati pada momen tertentu.
Awalnya, hantaran identik dengan prosesi pernikahan, khususnya saat pihak keluarga mempelai laki-laki memberikan barang kepada pihak perempuan.
Dalam perkembangannya, praktik ini meluas ke berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk perayaan Idulfitri.
Pada momentum Lebaran, hantaran biasanya berupa makanan siap saji yang disiapkan oleh keluarga.
Tradisi ini berkembang karena masyarakat telah menyiapkan hidangan khusus sebelum hari raya, sehingga saat Lebaran berlangsung, aktivitas memasak berkurang dan fokus bergeser pada silaturahmi.
Data dari Lembaga Kebudayaan Betawi menunjukkan bahwa isi hantaran umumnya berupa makanan khas Lebaran, seperti ketupat, opor ayam, sambal godog, semur daging, serta berbagai kue tradisional.
Selain itu, terdapat pula camilan seperti kacang bawang, biji ketapang, dan kembang goyang.
Media yang digunakan untuk membawa hantaran juga memiliki variasi.
Rantang sering digunakan untuk makanan berkuah, sementara wadah anyaman bambu seperti bongsang dipakai untuk buah atau makanan tertentu.
Dalam beberapa tradisi, istilah seperti “rantangan” dan “bongsangan” muncul berdasarkan jenis wadah yang digunakan.
Tradisi anter-anteran tidak memiliki batasan ketat terkait pelaku.
Secara umum, kegiatan ini dilakukan oleh individu kepada pihak yang lebih tua atau dihormati, seperti orang tua, guru, atau tokoh masyarakat.
Dalam konteks modern, praktik ini juga terjadi dalam lingkup organisasi dan pemerintahan sebagai bentuk penghormatan simbolik.
Namun demikian, Fauzi Bowo menekankan pentingnya memahami konteks budaya agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.
Ia menilai bahwa tradisi ini harus dilihat sebagai bagian dari sistem nilai sosial masyarakat Betawi, bukan dalam kerangka administratif modern semata.
Pelestarian Budaya
Selain menyoroti tradisi anter-anteran, Fauzi Bowo juga mengingatkan pentingnya menjaga praktik budaya lain, seperti tata cara bersalaman.
Ia menyebut bahwa tradisi mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua mulai bergeser di kalangan generasi muda.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya sebatas pada seremoni, tetapi juga pada praktik sehari-hari yang mencerminkan nilai penghormatan dan kebersamaan.
Lebaran Betawi sendiri merupakan agenda tahunan yang telah berlangsung sejak 2008 dan menjadi bagian dari kalender budaya di Jakarta.
Acara ini bertujuan memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat luas sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah perkembangan kota.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa Lebaran Betawi menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di ibu kota.
Dengan lokasi strategis di Lapangan Banteng dan akses transportasi yang mudah, acara ini menarik kunjungan dari berbagai kalangan.
Pengunjung dapat menyaksikan beragam pertunjukan seni, seperti lenong, tari topeng, ondel-ondel, tanjidor, hingga gambang kromong.
Selain itu, tersedia juga kuliner khas Betawi dan permainan tradisional yang dapat diikuti oleh masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB ini dirancang untuk menjangkau berbagai segmen, mulai dari keluarga hingga wisatawan domestik.
Pemerintah berharap partisipasi publik dalam acara ini dapat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal.

