HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level 17.105 pada Selasa (7/4/2026), sebelum akhirnya menguat tipis ke level 16.985 pada Rabu pagi (8/4/2026). Meski terlihat tertekan, kondisi ini dinilai tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menegaskan bahwa pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor global, seperti penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penguatan dolar AS terjadi hampir di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, seiring tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan kecenderungan investor mencari aset aman.
Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia tetap solid. Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terjaga sesuai target Bank Indonesia, serta sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang kuat.
Cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level aman. Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan devisa per akhir Maret 2026 mencapai USD 148,2 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor.
“Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi penopang penting, didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel,” tambah David.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Fakhrul Fulvian yang menilai pelemahan rupiah saat ini sudah memasuki fase overshooting, yakni kondisi ketika nilai tukar bergerak melampaui keseimbangan akibat respons pasar yang berlebihan.
“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.
Peluang di Balik Pelemahan Rupiah
Di balik tekanan tersebut, pelemahan rupiah justru membuka peluang strategis bagi Indonesia. Nilai tukar yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing produk ekspor di pasar global.
“Ini juga menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik,” kata David.
Fakhrul menambahkan, tanda-tanda stabilisasi global mulai terlihat, termasuk meredanya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga komoditas.
“Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS,” ujarnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekonomi di tengah dinamika global.

