Neraca Dagang RI Suprlus Lagi, Mendag Busan : Bukti Ketahanan Indonesia di Tengah Donamika Global

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

Pertumbuhan ekspor nonmigas pada Januari–Februari 2026 didorong ekspor sektor industri pengolahan sebesar 6,69 persen (CtC). Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 25,99 persen serta sektor pertambangan dan lainnya turun 16,34 persen (CtC).

Di sisi lain, komoditas nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, timah dan barang daripadanya (HS 80) yang melonjak 89,01 persen, nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 55,97 persen, serta lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) yang tumbuh 28,79 persen (CtC).

“Peningkatan ekspor sejumlah komoditas utama tidak terlepas dari faktor harga di pasar global. Harga timah tercatat melonjak 59,87 persen dan nikel naik 13,88 persen selama Januari–Februari 2026. Peningkatan harga ini mendorong kenaikan nilai ekspor kedua komoditas tersebut,” terang Mendag Busan.

Sementara itu, peningkatan ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) lebih didorong oleh permintaan global. Di tengah penurunan harga minyak kelapa sawit (palm oil) sebesar 4,27 persen (CtC) (World Bank Commodity Price Data (The Pink Sheet), 3 Maret 2026), volume ekspornya justru meningkat signifikan sebesar 34,46 persen (CtC).

Dari sisi pasar ekspornya, Tiongkok, AS, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan total nilai mencapai USD 18,57 miliar atau 43,85 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Namun demikian, pertumbuhan ekspor tertinggi justru terjadi di pasar nontradisional. Uni Emirat Arab mencatatkan kenaikan sebesar 68,62 persen, diikuti Spanyol 54,63 persen, dan Mesir 38,77 persen (CtC). Secara kawasannya, ekspor ke Asia Tengah lainnya yang meliputi Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan melonjak paling tinggi hingga 146,11 persen, disusul Kawasan Karibia sebesar 22,26 persen, dan Afrika Utara 22,14 persen.

Impor Barang Modal Melonjak, Indikator Perbaikan Industri

Kinerja impor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 20,89 miliar. Secara bulanan, nilai tersebut terkontraksi 1,45 persen dibandingkan Januari 2026 (MtM), namun masih tumbuh 10,85 persen dibandingkan Februari 2025 (YoY). Peningkatan impor secara tahunan terutama didorong impor nonmigas yang tumbuh 18,24 persen (YoY) di tengah penurunan impor migas sebesar 30,36 persen (YoY).

Selanjutnya, secara kumulatif Januari–Februari 2026, total impor mencapai USD 42,09 miliar atau naik 14,44 persen dari Janurari—Februari 2025 (CtC). Kenaikan tersebut ditopang impor nonmigas sebesar 17,49 persen, sementara impor migas terkoreksi sebesar 3,50 persen (CtC).

Sementara itu, dilihat dari golongan penggunaan barangnya (BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan. Impor barang modal meningkat paling tinggi sebesar 34,44 persen, diikuti barang konsumsi 15,60 persen, dan bahan baku atau penolong 9,27 persen (CtC).

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Achmad Husin Alifiah
Tim Penulis & Editor
Achmad Husin Alifiah
Apresiasi untuk Achmad Husin Alifiah

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU