Mendag Busan menyatakan, kenaikan impor barang modal dan bahan baku atau penolong pada Januari–Februari 2026 merupakan indikator positif bagi industri nasional. “Hal ini selaras dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia yang meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2024, memberikan sinyal positif bagi kinerja perdagangan Indonesia di kemudian hari,” ujar Mendag Busan.
Dari sisi komoditasnya, lonjakan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang meningkat signifikan sebesar 869,38 persen. Selain itu, impor logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 91,85 persen, serta garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 63,62 persen (CtC).
Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Australia, dan Singapura dengan kontribusi gabungan mencapai 53,47 persen. Di sisi lain, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi, antara lain, Prancis yang naik 258,88 persen, Uni Emirat Arab 138,26 persen, serta Singapura 102,75 persen (CtC).


