HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bayangkan sebuah fragmen visual di mana naga liong yang meliuk-liuk bersanding dengan langkah tegap Polwan berkuda, sementara dentuman Bedug Yudha Asri bersahutan dengan simbal barongsai. Pemandangan unik inilah yang menyihir kawasan Lapangan Banteng pada Sabtu, 28 Februari 2026, dalam gelaran Parade Imlek Nusantara.
Bukan sekadar perayaan etnis, parade ini menjelma menjadi “ruang perjumpaan” raksasa. Yang membuatnya semakin istimewa, kemeriahan ini berlangsung di tengah suasana syahdu bulan Ramadan, menciptakan potret toleransi yang jarang ditemukan di belahan dunia lain.
Parade dimulai dengan long march yang sarat makna, bergerak dari kawasan Gereja Katedral menuju Lapangan Banteng. Jalur ini dipilih bukan tanpa alasan; posisinya yang menjepit Masjid Istiqlal dan Katedral menjadi simbol bisu betapa kuatnya akar harmoni di tanah air.
“Indonesia adalah negara yang paling inklusif karena keberagaman tidak hanya kita ucapkan, tetapi kita buktikan dan kita rasakan setiap hari,” ujar Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, saat membuka acara secara simbolis.
Keunikan utama parade tahun ini terletak pada keberanian mencampur aduk unsur budaya tradisional dengan elemen modern. Penonton disuguhi pemandangan kontras yang estetik, di mana nilai-nilai lokal dan pengaruh global melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis sepanjang jalur parade.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika pertunjukan Wushu yang tajam dan akrobatik bersanding mesra dengan eloknya gerakan Pencak Silat. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana dua disiplin bela diri dari latar belakang berbeda dapat berbagi panggung yang sama dengan penuh rasa hormat.
Suasana semakin cair saat Jaran Kepang dan Ondel-Ondel tampak begitu serasi berjalan beriringan dengan Koko Cici Jakarta serta iring-iringan mobil hias yang megah. Kehadiran ikon Betawi di tengah kemeriahan Imlek ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi di Indonesia bersifat dinamis dan saling melengkapi.
Tak ketinggalan, delegasi lintas daerah turut memperkaya warna karnaval ini. Peserta dari Pontianak, Surakarta, Medan, hingga Semarang membawa bumbu akulturasi khas daerah masing-masing, mempertegas kenyataan bahwa budaya Tionghoa telah lama melebur menjadi identitas lokal yang tak terpisahkan dari Nusantara.
Di sela-sela keriuhan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengingatkan bahwa parade ini adalah kelas sejarah terbuka. Ia menekankan bahwa identitas bangsa kita adalah hasil proses panjang akulturasi, mulai dari bahasa hingga kuliner.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Veronica Tan di barisan penonton kian menegaskan bahwa Parade Imlek Nusantara telah naik kelas—dari sekadar pesta rakyat menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang berbasis pada gotong royong dan kebhinekaan.
Saat bedug dipukul sebagai tanda puncak acara, pesan yang tertinggal di Lapangan Banteng sangat jelas: Di bawah langit Jakarta, perbedaan tidak hanya diterima, tapi dirayakan dengan tarian dan sorak-sorai.


