HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menyatakan konflik Iran-Israel berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
Saat ini, harga minyak mentah berada di kisaran 70 dolar Amerika Serikat per barel. Namun, menurut Faisal, jika eskalasi konflik berlanjut, harga minyak dapat naik ke level 80 dolar AS per barel. Bahkan, apabila pasokan minyak di Selat Hormuz terganggu, harga berpotensi menembus 100 dolar AS per barel.
Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan strategis tersebut dinilai dapat mendorong kenaikan harga minyak global secara tajam.
“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” ujar Faisal dalam keterangannya, dikutip Holopis.com, Minggu (1/3/2026).
Faisal menilai konflik bersenjata tersebut berpotensi meluas menjadi konflik regional dengan keterlibatan Amerika Serikat serta dukungan China dan negara lain di belakang Iran.
“Ada kemungkinan perang ini berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan,” katanya.
Dampak ke BBM dan Inflasi
Lonjakan harga minyak dunia diperkirakan berdampak langsung terhadap penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, khususnya BBM nonsubsidi yang mengikuti harga pasar internasional.
Selain itu, potensi penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar dinilai lebih mengkhawatirkan karena digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Peningkatan harga ini tentu saja berpotensi mempengaruhi inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat pada umumnya,” ujarnya.
Sebelumnya, serangan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, dilaporkan memicu kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Media resmi Iran juga melaporkan bahwa Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut, sementara Islamic Revolutionary Guard Corps mengumumkan dimulainya operasi ofensif besar sebagai respons.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi gangguan distribusi minyak global, pasar energi diperkirakan tetap volatil dalam waktu dekat. Pemerintah dan pelaku pasar diminta mencermati perkembangan konflik yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global maupun domestik.


