Parpol Baru Tak Lagi Jadi Lembaga Kaderisasi Tapi Sekadar Early Booking Pilpres

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Arifki Chaniago menilai bahwa deklarasi dua partai politik baru yang langsung mengunci dukungan calon presiden dinilai sebagai sinyal perubahan pola kontestasi politik nasional.

Kedua partai tersebut di antaranya adalah Partai Gema Bangsa. Di mana secara terbuka mereka menyatakan dukungan politik kepada Prabowo Subianto untuk maju lagi dalam Pilpres 2029 mendatang. Sementara Partai Gerakan Rakyat memposisikan diri sebagai partai pendukung Anies Baswedan untuk Pemilihan Presiden 2029.

Arifki menilai langkah ini menunjukkan bahwa politik Indonesia memasuki era baru yang bisa disebut sebagai “early booking” Pilpres, di mana partai bahkan belum melewati verifikasi dan pemilu legislatif, tetapi sudah menjual arah dukungan presidensial.

“Ini bukan sekadar deklarasi dukungan, melainkan strategi branding. Partai baru hari ini tidak lagi menjual ideologi atau program, tetapi menjual kepastian: mereka berdiri di kubu siapa,” kata Arifki, Selasa (20/1/2026).

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini menyebut jika fenomena ini menandai pergeseran fungsi partai politik. Jika sebelumnya partai menjadi arena kaderisasi dan perumusan gagasan, kini sebagian partai baru lahir justru sebagai instrumen elektoral untuk figur tertentu. Capres bukan hasil proses partai, melainkan titik awal kelahiran partai itu sendiri.

Deklarasi dini tersebut juga dibaca sebagai respons atas semakin padatnya pasar politik. Dengan banyaknya partai dan figur yang bersaing, partai baru memilih jalan pintas untuk langsung mengikat emosi pemilih lewat tokoh yang sudah dikenal publik.

- Advertisement -

“Dalam konteks ini, Pilpres 2029 diperlakukan seperti konser besar yang tiketnya dijual jauh-jauh hari. Siapa cepat memesan panggung, dia yang lebih dulu terlihat,” katanya.

Namun, strategi ini dinilai memiliki konsekuensi jangka panjang. Ketika identitas partai terlalu melekat pada satu figur, daya tawar partai bisa melemah jika dinamika politik berubah. Selain itu, ruang dialog kebijakan berisiko tergeser oleh narasi personalisasi politik yang berkepanjangan.

Arifki menambahkan, deklarasi cepat juga memperpanjang suhu kompetisi politik nasional. Polarisasi tidak lagi muncul menjelang pemilu, tetapi berpotensi menjadi latar permanen dalam kehidupan politik sehari-hari.

“Pilpres 2029 belum resmi dimulai, tetapi cara berpikir elite politik sudah berada di tahun itu. Ini pertanda bahwa siklus politik kita makin pendek, sementara masa kampanye makin panjang,” ujarnya.

Ia menutup dengan catatan bahwa publik perlu memahami dinamika ini sebagai perubahan irama demokrasi. Karena partai politik saat ini hanya butuh amunisi untuk bisa ikut berkontestasi dan menjadi bagian dari koalisi dukung mendukung.

“Pilpres 2029 belum dekat secara kalender, tetapi secara politik sudah mulai berjalan. Siapa cepat menyiapkan diri dan mengunci kendaraan, dialah yang lebih siap memasuki arena,” pungkasnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya dan artikel berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO, & ShopeePay.

Berita Lainnya

YANG BARU