HOLOPIS.COM, LOMBOK – Di bawah terik matahari Pulau Seribu Masjid, dentuman musik Gamelan Rebana memecah keheningan. Di tengah lingkaran penonton yang antusias, dua pria bertelanjang dada bersiap dengan tatapan tajam.
Di tangan kanan mereka tergenggam penjalin (tongkat rotan), sementara tangan kiri sigap memegang ende (perisai kulit kerbau). Inilah Peresean, sebuah tradisi epik Suku Sasak yang lebih dari sekadar pertunjukan seni bela diri, melainkan simbol ketangguhan yang telah mengakar selama berabad-abad di tanah Lombok.
Bagi masyarakat lokal, para petarung ini disebut sebagai Pepadu. Meski saling serang dengan sabetan rotan yang menimbulkan bunyi “plak” yang keras di kulit, Peresean bukanlah ajang balas dendam.
Peresean adalah ujian sportivitas. Di dalam arena para petarung adalah lawan, namun setelah peluit wasit berbunyi, mereka adalah saudara. Nilai patriotisme dan silaturahmi menjadi ruh utama dalam setiap laga. Uniknya, luka sabetan di punggung para pepadu dianggap sebagai tanda kehormatan dan kejantanan.
Dahulu kala, Peresean bukan hanya hiburan. Tradisi ini merupakan ritual sakral pemanggil hujan (ujung) saat musim kemarau panjang melanda tanah Lombok. Keyakinan kuno menyebutkan bahwa tetesan darah para pepadu yang jatuh ke bumi akan memancing datangnya air dari langit.
Kini, fungsi Peresean telah bertransformasi menjadi magnet wisata budaya yang luar biasa, di mana wisatawan dapat menyaksikan atraksi ini dalam berbagai momen penting seperti perayaan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus, Hari Jadi Daerah (HUT NTB atau Kota Mataram), Festival Pesona Bau Nyale, hingga acara penyambutan tamu-tamu kenegaraan dan wisatawan mancanegara.
Sebuah laga Peresean dipimpin oleh seorang wasit tengah yang disebut Pekembar Sedang dan dua wasit pinggir (Pekembar Jarak). Musik pengiring yang dinamis, terdiri dari kendang, gong, dan seruling, berperan vital dalam mengatur tempo serangan serta membakar semangat para pepadu dan penonton.
Setiap babak menyuguhkan ketegangan yang nyata. Sabetan rotan yang lincah harus ditangkis dengan presisi menggunakan perisai ende. Namun, di balik kekerasan yang terlihat, ada aturan ketat: petarung dilarang memukul bagian tubuh bawah (kaki) atau kepala bagian depan.
Jika Anda berkunjung ke Lombok dan ingin merasakan atmosfer Peresean secara langsung, langkah pertama adalah menentukan lokasi yang tepat. Desa Wisata Sade atau Desa Rambitan adalah dua destinasi utama yang sering mengadakan pertunjukan ini secara rutin khusus bagi para wisatawan.
Salah satu daya tarik unik dari Peresean adalah adanya unsur partisipasi penonton. Terkadang, pekembar akan menantang penonton atau wisatawan untuk mencoba masuk ke arena dan bertanding. Jika Anda merasa cukup bugar dan memiliki nyali yang besar, ini bisa menjadi pengalaman “sekali seumur hidup” yang sangat berkesan.
Namun, sangat penting untuk tetap menjaga kesantunan dan menghormati adat setempat. Selalu gunakan pakaian yang sopan saat menonton. Sangat disarankan untuk mengenakan atribut khas lokal seperti kain sarung Sasak atau Sapuk (ikat kepala) sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi luhur ini.
Peresean adalah bukti nyata bahwa budaya tradisional Indonesia tidak hanya bertahan dari gerusan zaman, tetapi tetap hidup sebagai identitas bangsa yang membanggakan. Jika Anda mencari pengalaman wisata yang memacu adrenalin sekaligus memperkaya batin, menyaksikan sabetan rotan para pepadu di Lombok adalah jawabannya.


