HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menegaskan bahwa ranjau darat yang menewaskan personel militer Thailand di sepanjang perbatasan Thailand–Kamboja dipasang secara sengaja oleh pihak Kamboja dan bukan terjadi akibat kecelakaan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Sabtu (13/12).
“Ranjau darat yang menewaskan dan melukai tentara Thailand itu bukan kecelakaan. Itu dipasang dengan sengaja,” ujar Sihasak, dikutip Holopis.com, Senin (15/12).
Sihasak menilai pihak Amerika Serikat kemungkinan belum sepenuhnya memahami fakta di lapangan atau menerima informasi yang tidak akurat. Ia menyebut Thailand memiliki sedikitnya tujuh kasus terdokumentasi terkait penempatan ranjau darat oleh Kamboja di sepanjang perbatasan, yang telah diverifikasi oleh pengamat independen. Selain itu, ia juga menyinggung adanya serangan roket BM-21 yang disebut direncanakan secara sengaja dan menyasar kawasan sipil Thailand.
Menanggapi penilaian Trump yang menyebut respons Thailand berlebihan, Sihasak menegaskan bahwa langkah yang diambil negaranya bersifat proporsional dan sebanding dengan serangan yang dialami.
Ia juga menyatakan bahwa komentar Trump tersebut telah menyakiti perasaan rakyat Thailand, khususnya karena menyebut insiden ranjau yang menewaskan dan melukai tentara Thailand sebagai kecelakaan.
Di sisi lain, Sihasak mengungkapkan kekhawatiran atas kondisi ribuan warga Thailand yang masih terjebak di wilayah Kamboja. Ia mengatakan sekitar 6.000 hingga 7.000 warga Thailand saat ini berada di sisi Kamboja dari pos pemeriksaan perbatasan Poipet dan belum dapat kembali ke tanah air. Menurutnya, Thailand tidak pernah menghambat pemulangan warga Kamboja, sementara pihak Kamboja dinilai berulang kali menunda pembukaan kembali perlintasan perbatasan.
Sebelumnya, Perdana Menteri sementara Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dilaporkan telah berbicara secara terpisah dengan Presiden Trump pada Jumat (12/12) terkait konflik perbatasan tersebut.
Pada hari yang sama, Trump mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebut kedua pemimpin telah sepakat memberlakukan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat malam waktu setempat.
Meski demikian, Anutin pada Sabtu menegaskan Thailand akan terus melanjutkan operasi militernya hingga wilayah dan warga Thailand tidak lagi berada dalam ancaman.


