HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gen Z di Bulgaria melakukan aksi penurunan terhadap Perdana Menteri (PM) Nikolay Zhelyazkov melalui sosial media Tiktok dan Instagram, yang kemudian menjadi awal mula aksi demonstrasi serta tuntutan akan penurunan rezim.
Aksi protes ini dipicu oleh rencana anggaran negara tahun 2026 yang menuai penolakan luas dari masyarakat, yang kemudian berhasil menggerakan hampir 500 ribu warga Bulgaria yang aktif membuat konten demonstrasi di TikTok sejak awal Desember.
Gen Z menjadi kekuatan utama di balik gerakan ini. Banyak anak muda mengorganisir aksi melalui media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Slogan seperti “Gen Z akan menjatuhkan kalian” dan “Beri kami alasan untuk tetap tinggal” menggema dalam demonstrasi, mencerminkan kekecewaan generasi muda terhadap krisis lapangan kerja dan tingginya angka emigrasi.
Seperti yang dikutip Holopis.com dari laman Polskieradio, gerakan ini merupakan gelombang demonstrasi terbesar dalam 30 tahun terakhir sejak November lalu.
Rancangan anggaran tersebut mencakup kenaikan iuran jaminan sosial serta pemberian bonus besar bagi pejabat publik dan aparat keamanan. Kritik utama datang dari kalangan masyarakat dan pelaku usaha yang menilai kebijakan itu akan membebani sektor swasta.
Gen Z di Bulgaria khawatir langkah tersebut justru memperkuat kendali pemerintah atas lembaga-lembaga publik, sementara beban ekonomi dialihkan ke masyarakat.
Perdana Menteri Nikolay Zhelyazkov mengakui tekanan yang datang dari aksi demonstrasi tersebut. Ia menyatakan bahwa suara penolakan datang dari berbagai kelompok usia dan latar belakang etnis. Menurutnya, pemerintah mendengarkan aspirasi warga yang menuntut pengunduran diri kabinet.
Kemurkaan publik juga diarahkan kepada mantan Perdana Menteri Boyko Borissov serta pengusaha media Delyan Peevski yang tengah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan Inggris. Partai DPS-NN pimpinan Peevski diketahui menjadi pendukung koalisi minoritas yang berkuasa.
Bulgaria Akan Bentuk Pemerintahan Baru
Di tengah situasi politik yang memanas, Presiden Bulgaria Rumen Radev diperkirakan akan segera menggelar pertemuan dengan partai-partai parlemen untuk membentuk pemerintahan baru.
Jika upaya tersebut gagal, Bulgaria akan dipimpin oleh kabinet sementara hingga pemilu cepat kembali digelar. Sejak 2020, negara ini sudah tujuh kali mengadakan pemilu dadakan akibat krisis politik berkepanjangan.
Aksi protes ini mendapat dukungan luas dari publik. Survei lembaga Myara menunjukkan sebanyak 71,3 persen warga Bulgaria mendukung demonstrasi tersebut. Unjuk rasa berlangsung di ibu kota Sofia dan menyebar ke berbagai kota besar lainnya, seperti Plovdiv, Varna, Burgas, dan Veliko Tarnovo.


