HOLOPIS.COM, JAKARTA — Anggota Komisi IX DPR RI, Achmad Ru’yat, mendesak pemerintah untuk menjadikan penanganan dan eliminasi tuberkulosis (TBC) sebagai program strategis nasional.
“Kontribusi yang terpapar TBC di Indonesia meningkat menjadi 10% dari jumlah yang ada di dunia. Sementara di India mengalami penurunan,” ujar Ru’yat seperti yang dikutip Holopis.com dalam Rapat Panitia Kerja (Panja) Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Gedung DPR RI, Rabu (12/11).
Menurut Ru’yat, kondisi tersebut menunjukkan urgensi penanganan yang lebih serius dan terintegrasi.
Ru’yat juga mendorong agar program eliminasi TBC dimasukkan ke dalam program strategis nasional (PSN) dengan dukungan kebijakan fiskal dan anggaran yang memadai.
“Kalau dalam proyek infrastruktur nasional ada kebijakan fiskal dan anggaran, maka saya mengusulkan agar Panja Eliminasi TBC menjadikan program ini strategis nasional,” ujarnya.
Politikus PKS itu menilai penanganan eliminasi TBC seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang serupa dengan penanganan pandemi COVID-19.
Ia menekankan bahwa meski TBC tidak menyebabkan kematian secara langsung seperti COVID-19, dampaknya terhadap kesehatan, ekonomi, dan produktivitas masyarakat sangat signifikan.
“Saya usul penanganan eliminasi ini agak mirip terhadap penanganan COVID. Karena TBC ini menimbulkan infeksi, tapi tidak langsung kematian. Namun faktor kesehatan, ekonomi, dan produktivitas ini sangat signifikan,” tambahnya.
Ia pun berharap Presiden Prabowo Subianto dapat menetapkan penanganan TBC sebagai salah satu program prioritas pemerintah.
Pasalnya, angka kematian akibat TBC di Indonesia kini meningkat hingga 1,5 kali lipat, dengan 125 ribu kematian per tahun dari total 1,09 juta kasus.
“Itu yang meninggal meningkat 1,5 kali. Jadi dalam satu tahun terpapar 1.090.000, yang meninggal 125.000. Per jam itu ada 14,46 jiwa. Menurut saya, ini sudah emergensi untuk penanganan TBC,” tegas Ru’yat.


