Pada sesi ketiga G20 TIMM yang membahas “WTO Reform Including the Development Dimension”, Mendag Busan juga menyampaikan intervensinya. Pada sesi tersebut, Mendag Busan menekankan perlunya dukungan politik yang kuat untuk menjaga nilai dan prinsip dasar WTO.
“Para menteri harus mengambil langkah pertama untuk mencari titik temu, membangun kembali kepercayaan terhadap sistem, dan mendorong pemanfaatan mekanisme WTO. Meskipun, dalam beberapa hal, kita harus bersiap menghadapi badai,” tegas Mendag Busan.
Dalam konteks ini, Indonesia mengapresiasi proses reformasi WTO yang tengah difasilitasi di Jenewa oleh Duta Besar Peter Ølberg. Indonesia mendorong agar hasil-hasil positif dari area yang masih berfungsi dengan baik di WTO dapat disebarluaskan kepada khalayak politik yang lebih luas.
Mendag Busan juga menegaskan kembali pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan (Preamble) Persetujuan Marrakesh sebagai pedoman bagi sistem perdagangan multilateral. “Komitmen bersama ini mencerminkan pengakuan akan peran vital perdagangan dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan,” katanya.
Mendag Busan menambahkan, pembahasan mengenai reformasi WTO sangat penting dan mendesak di tengah meningkatnya langkah-langkah unilateral yang mengancam prinsip dasar sistem perdagangan multilateral. Proliferasi langkah-langkah unilateral telah menimbulkan skeptisisme dan mengikis kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral. Akibatnya, sebagian anggota mulai melihat WTO bukan lagi solusi permasalahan perdagangan.
“Dengan segala kekurangannya, saya yakin WTO adalah aset global yang berharga dan esensial. Kita perlu menavigasinya di antara karang dan batu karang untuk menciptakan pelabuhan yang aman,” pungkas Mendag Busan.


