FJTT ke-29 Mengukuhkan Trenggalek Sebagai Destinasi Jaranan Kelas Dunia

0 Shares

TRENGGALEK – Siapa sangka, gemuruh derap kaki dan hentakan cambuk dalam tarian kuda lumping berusia ratusan tahun di Trenggalek kini resmi didapuk sebagai “the new engine of growth” (motor pertumbuhan baru) ekonomi kreatif Indonesia.

Melalui perhelatan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-29, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemen Ekraf) tidak hanya merayakan warisan budaya, tetapi juga mendorong transformasi seni tradisi khas Turonggo Yakso ini menjadi lokomotif ekonomi lokal yang produktif.

“Trenggalek memiliki tradisi jaranan yang menjadi identitas dan kebanggaan nasional. Festival ini membuktikan bahwa seni dan budaya dapat menjadi penggerak baru, menumbuhkan ekosistem mulai dari musik, kriya, kuliner, hingga produk kreatif lain yang bernilai ekonomi,” tegas Sekretaris Kementerian Ekraf, Dessy Ruhati, saat membuka festival.

FJTT bukan sekadar agenda tontonan. Bagi Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, festival ini adalah langkah strategis untuk mengukuhkan Trenggalek sebagai pusat jaranan dunia.

“Budaya lokal akan lebih kuat jika dipertemukan dengan kreativitas dari luar. FJTT adalah wadah yang membuka ruang kolaborasi itu,” ujar Nur Arifin, menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah, seniman, pelaku usaha, dan akademisi.

Jaranan, khususnya jenis khas Turonggo Yakso yang dikenal sakral dan penuh spirit perjuangan, dianggap sarat pesan moral. Anggota DPR RI Komisi VII, Novita Hardini, menyatakan bahwa nilai-nilai perjuangan, kebersamaan, dan pengendalian diri yang terkandung dalam seni ini menjadikannya relevan untuk diwariskan lintas generasi, sekaligus sumber inspirasi bagi inovasi kreatif.

- Advertisement -

Dalam setiap penyelenggaraannya, FJTT terbukti ampuh menarik perhatian publik dari berbagai daerah hingga mancanegara, memperkuat citra Trenggalek sebagai destinasi budaya unggulan.

Komitmen untuk memajukan sektor ini semakin diperkuat dengan janji dukungan dari Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Dadam Mahdar, untuk memfokuskan perhatian pada pengembangan subsektor seni rupa dan seni pertunjukan yang terintegrasi dengan festival ini.

FJTT ke-29 Tahun 2025 menjadi momentum penting untuk membuktikan bahwa kearifan lokal seperti Jaranan Turonggo Yakso tidak hanya mampu bertahan sebagai tradisi, tetapi juga berpotensi besar untuk berkembang menjadi ajang budaya berskala internasional dan sumber inovasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dede Suhadi
Dede Suhadi
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU