JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama sepekan terakhir menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif. Setelah sempat menguat di pertengahan pekan, rupiah akhirnya ditutup melemah tipis pada akhir perdagangan, Jumat (25/7), dibandingkan posisi pembukaan awal pekan.
Jika dibandingkan dengan pembukaan Senin (21/7) di Rp16.325 per dolar AS, rupiah ditutup pada Rp16.320 per dolar AS, mengalami penguatan tipis sekitar 0,03 persen dalam sepekan. Namun secara harian, pelemahan kembali terjadi di hari terakhir perdagangan.
Pada awal pekan, rupiah dibuka melemah 0,17 persen dari penutupan pekan sebelumnya. Koreksi berlanjut sepanjang hari dan ditutup di level Rp16.323, turun 0,16 persen. Memasuki Selasa (22/7), rupiah mulai bangkit dan menguat 0,02 persen ke level Rp16.319,5.
Penguatan berlanjut pada Rabu (23/7), dengan rupiah ditutup naik 0,1 persen ke level Rp16.303. Puncak penguatan terjadi pada Kamis (24/7), saat rupiah ditutup di Rp16.295, menguat 0,05 persen, sekaligus mencatat level terkuat dalam sepekan. Kinerja ini ditopang oleh sentimen positif pasar domestik dan indikasi intervensi Bank Indonesia.
Namun, tren positif tersebut tidak bertahan hingga akhir pekan. Rupiah kembali terkoreksi 0,15 persen dan ditutup pada Rp16.320 per dolar AS, menandai pelemahan tipis secara mingguan.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, termasuk potensi kesepakatan perdagangan global.
“Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global. Salah satunya adalah laporan media yang mengindikasikan hampir rampungnya perjanjian perdagangan utama antara Uni Eropa dan AS,” tulis Ibrahim dalam laporan risetnya, dikutip Holopis.com, Sabtu (26/7).
Perjanjian tersebut disebut-sebut akan menurunkan tarif ekspor Uni Eropa ke AS dari 30 persen menjadi 15 persen, berlaku mulai 1 Agustus. Selain itu, India juga menunjukkan optimisme akan tercapainya kesepakatan serupa.
“Di India, Menteri Perdagangan Piyush Goyal mengatakan ia optimistis negaranya dapat mencapai kesepakatan dengan AS untuk menghindari ancaman tarif sebesar 26 persen,” ujar Ibrahim.
Kesepakatan perdagangan AS-Jepang yang diumumkan awal pekan oleh Presiden Trump, dengan penurunan tarif menjadi 15 persen dari rencana awal 25 persen, turut memperkuat optimisme pasar bahwa negara lain akan menyusul dengan kesepakatan dagang strategis.
Dari sisi domestik, pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 akan mencapai target 5,2 persen, ditopang oleh sentimen positif di semester II-2025.
“Mulai muncul sentimen positif atas sebagian komponen produk domestik bruto (PDB), sehingga tren anjloknya pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal belakangan pun masih bisa dibalas pada paruh akhir 2025,” jelas Ibrahim.
Ia menilai bahwa intervensi kebijakan fiskal maupun non-APBN akan menjadi kunci percepatan pemulihan. Adapun proyeksi pergerakan rupiah pekan depan diperkirakan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp16.310 – Rp16.360 per dolar AS.


