JAKARTA – Stelah perang sealam 12 harinya dengan Israel usai, Iran membantah akan melanjutkan perundingan terkait nuklir dengan Amerika Serikat. Konflik terbesar sejauh ini antara Iran dan Israel telah membuat Iran ogah melakukan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
Padahal, Presiden Donald Trump mengaku akan mengadakan diskusi dengan Iran pada minggu depan dengan mengirimkan utusannya, Steve Witkoff. Tetapi hal tersebtu dibantah oleh Iran.
“Saya ingin menyatakan dengan jelas bahwa belum ada kesepakatan, pengaturan, atau pembicaraan yang dibuat untuk memulai negosiasi baru,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragachi, dikutip Holopis.com, Jum’at (27/6).
Penyangkalan ini dilakukan ketika anggota parlemen Iran meloloskan RUU yang mengikat, yang menangguhkan kerja sama dengan pengawas nuklir PBB, dan setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menuding Trump telah melebih-lebihkan dampak dari serangan Amerika Serikat terhadap nuklir Iran.
“Presiden Amerika Serikat membesar-besarkan kejadian dengna cara yang tidak biasa, dan ternyata dia membutuhkan pembesar-besaran ini,” katanya Ayatollah Ali Khamenei.
Ia mengaku serangan dari Amerika Serikat tidak terlalu memberikan dampak terhadap senjata nuklir Iran, dan tidak mmebawa program nuklir Iran mengalami kemunduran beberapa dekade seperti yang diklaim oleh Amerika Serikat.
Ayatollah Ali Khamenei kemudian mengatakan bahwa in adalah kemenangan dari Iran, dan merupakan tamparan besar untuk Amerika Serikat.
“Republik Islam menang, dan sebagai balasannya memberikan tamparan keras di wajah Amerika,” ujarnya.
Sebagai informasi, sebelumnya Israel menyerang Iran dengan mengatakan merasa terancam dengan senjata nuklir yang dimiliki oleh Iran. Sementara Iran melakukan serangan kepada Israel dan mengaku serangan tersebut hanya balasan dan merupakan bentuk dari pembelaan diri.
Sejauh ini, serangan Israel terhadap Iran sudah menewaskan 627 orang. Sementara serangan Iran terhadap Israel sudah membunuh 28 orang.

