Pembubaran JI Bakal Jadi Bahan Akademik di UIN Salatiga

"Saya berharap kajian semacam ini terus berkembang di kampus-kampus Islam," pungkas Prof Ilyya.

0 Shares

JAKARTA – Dekan Fakultas Syariah UIN Salatiga, Prof. Ilyya Muhsin, mengatakan, bahwa peristiwa pembubaran organisasi teror terbesar se Asia Tenggara, Jamaah Islamiyah (JI) akan menjadi bahan akademik di lingkungan kampusnya.

“Bubarnya JI bukan hanya kemenangan dari sisi keamanan, melainkan juga kemenangan bagi pendekatan dialog, pendidikan, dan kesadaran,” kata Prof Ilyya dalam bedah buku “JI The Untold Story: Perjalanan Kisah Jemaah Islamiyah” yang diselenggarakan di kampus UIN Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (25/6/2025) seperti dikutip Holopis.com.

Menurut literasi yang ia dapatkan melalui bedah buku tersebut, Prof Ilyya mengambil kesimpulan besar, bahwa bubarnya Jamaah Islamiyah bukan karena tekanan dari pihak manapun, akan tetapi lebih didasari karena kesadaran internal mereka sendiri, khususnya para amirnya.

“Ini memberi harapan bahwa perubahan bisa dimulai dari dalam. Tugas kita sebagai akademisi adalah membedah alasan dan dinamika perubahan itu, dan menjadikannya bahan pembelajaran untuk masa depan,” tuturnya.

Lantas, ia pun berharap besar, fenomena pembubaran Jamaah Islamiyah tersebut dapat menjadi kajian juga di lingkungan kampus berbasis Islam di seluruh Indonesia.

“Saya berharap kajian semacam ini terus berkembang di kampus-kampus Islam,” pungkas Prof Ilyya.

- Advertisement -

Dalam kesempatan yang sama, Stafsus Kepala Densus 88 yang juga peneliti terorisme, Khoirul Anam menjelaskan bahwa “JI The Untold Story” ditulis oleh Irjen. Pol. Sentot Prasetyo. Buku ini ditegaskan Anam bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami bagaimana fenomena besar pernah terjadi di dunia, khususnya di Republik Indonesia, yakni bubarnya sebuah organisasi teror terbesar se Asia Tenggara, yakni Jamaah Islamiyah.

“Buku ini menyuguhkan banyak pengakuan dan kesaksian penting dari para eks anggota JI yang selama ini belum pernah diungkap ke publik,” kata Anam.

Lantas, ia juga menjelaskan bahwa buku yang ditulis oleh Irjen Pol Sentot adalah sebuah saluran yang memang sesuai dengan data dan fakta yang ada dari dalam organisasi yang pernah dipimpin oleh Ustadz Para Wijayanto.

“Kami ingin menyampaikan narasi dari sisi dalam, dari mereka yang pernah menjadi bagian dari struktur JI,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Anam pun menyampaikan bahwa kehadiran buku “JI The Untold Story” dapat menjadi wahana literasi bagi masyarakat luas untuk memahami bagaimana ideologi radikalisme dan terorisme pernah bersemayam di organisasi bernama Jamaah Islamiyah secara utuh.

“Ini adalah bahan rujukan yang sangat penting untuk memahami, bukan hanya ideologi, tapi juga dinamika pertobatannya,” jelas Anam.

Bedah buku yang dilakukan atas kerja sama Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga tersebut ternyata mendapatkan antusiasme besar dari para peserta. Hal ini pun terlihat dari semakin banyaknya sesi tanya jawab yang dibuka dalam forum literasi itu.

Mahasiswa dan dosen silih berganti mengajukan pertanyaan mendalam, mulai dari keaslian niat pembubaran, alasan Ustaz Para Wijayanto bergabung dalam gerakan radikal meski berasal dari latar keluarga mapan, hingga bagaimana dampak pembubaran ini terhadap peta ideologi kekerasan di Indonesia. Diskusi berlangsung hangat, kritis, namun tetap dalam suasana ilmiah.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang.Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya dan artikel berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO, & ShopeePay.

Berita Lainnya

YANG BARU