HOLOPIS.COM, JAKARTA – Direktur eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi memberikan sentilan keras kepada pendukung Anies Baswedan yang menyebut bahwa survei-surveinya hanya sebatas bayaran saja, sehingga tidak bisa dipercaya kredibilitas dan kejujurannya.
Terkait dengan sentimen negatif itu, Burhanuddin pun memberikan saran kepada mereka yang memberikan penilaian semacam itu agar tak perlu ke dokter jika sakit. Sebab, ia khawatir orang tersebut akan diminta biaya atas penanganan medis, konsultasi maupun resep obat yang diberikan nanti.
“Kalau kamu sakit jangan datang ke dokter karena kamu pasti dimintai duit untuk pemeriksaan dan resep dokter,” kata Burhanuddin dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Jumat (5/5).
Bagi mereka yang hanya mendiskreditkan hasil survei resmi seperti lembaganya, agar berobat saja dengan orang yang tak memiliki dasar ilmu medis atau kedokteran.
“Temui orang biasa di pinggir jalan yang bisa kasih resep gratis buat menyembuhkan penyakitmu,” tandasnya.
Dipaparkan oleh Burhan, tugas utama yang paling penting dari peneliti sepertinya adalah melakukan analisis untuk mengukur kendala dan kebutuhan yang diharapkan user atau masyarakat. Dia akan menggunakan metodologi yang sesuai dan akademis serta kaidah yang disepakati bersama.
Hasil survei itu bisa digunakan oleh user atau konsultan politik misalnya di dalam melakukan eksekusi strategi. Namun ketika hasil yang ada dilakukan tanpa mekanisme dan analisis yang sesuai kaidah, dikhawatirkan hasilnya pun akan kacau.
“Pollster seperti dokter yang mendiagnosis penyakit pasien. Sementara konsultan seperti pharmacist yang meracik obat dan menjualnya ke yang sakit. Dokter yang bagus kasih diagnosis yang bener, bukan resep ngawur,” tuturnya.
Di sisi lain, Burhanuddin Muhtadi juga memberikan pemahaman bahwa survei adalah beda dengan sensus. Tidak semua user ID dilakukan pendataan untuk melakukan riset. Ia hanya bersifat sample dengan mekanisme acak namun tetap harus memenuhi variabel yang ada.
“Banyak yg bertanya kenapa mereka gak pernah disurvei? Emang survei dikira sensus,” ucapnya.


