HOLOPIS.COM, POSO – Tokoh Panglima Damai Poso, Muhammad Adnan Arsal menyampaikan rasa syukur atas pembubaran organisasi Jamaah Islamiyah (JI) oleh para petinggi organisasi ekstremis tersebut di seluruh Indonesia.
Menurut Adnan, pembubaran Jamaah Islamiyah tersebut bisa membuat publik tidak lagi melihat bahwa JI adalah kelompok teroris.
“Alhamdulillah, dengan adanya deklarasi 30 Juni, diharapkan dapat menghilangkan stigma bahwa JI adalah kelompok teroris,” kata Muhammad Adnan dalam seminar bertemakan “Sinergi Wali dengan Pesantren Demi Wujudkan Pesantren yang Maju” yang diselenggarakan di Poso, Kamis (8/8) seperti dikutip Holopis.com.
Muhammad Adnan menyatakan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah sudah terbuka pikirannya tentang bagaimana menjaga dan merawat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kami telah kembali ke pangkuan NKRI, dan mari kita bersama-sama dengan para pemangku kepentingan berkontribusi dalam membangun bangsa,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan pimpinan senior Jamaah Islamiyah sekaligus eks pimpinan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI), Bambang Sukirno alias Abu Zahra pun menyampaikan rasa syukur bisa hadir dalam kegiatan ini.
Ia berharap dengan usainya kegiatan ini, semua eks Jamaah Islamiyah bisa memaknai hidup dengan lebih bermanfaat kepada sesama, baik dalam konteks keislaman maupun kebhinnekaan.
“Saya senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi ini. Semoga hidup kita ke depan bermanfaat bagi semua umat,” kata Bambang Sukirno.
Kemudian, ia juga berharap semua mantan JI bisa menjadikan masa lalu mereka sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga, sehingga ke depan tidak lagi mereka rawat kebencian kepada orang lain karena pemahaman agama yang sempit.
“Diharapkan ke depan kita dapat melihat hal-hal positif, dan mengambil hikmah dari masa lalu untuk kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Lantas, ia juga menekankan bahwa pembubaran Jamaah Islamiyah bukan karena adanya faktor paksaan atau tekanan dari pihak lain. Melainkan karena adanya kajian yang mendalam dari internal Jamaah Islamiyah dan terbukanya wawasan keislaman dari semua jamaah.
“Jamaah Islamiyah dibentuk karena ilmu, dan dibubarkan juga karena ilmu,” sambungnya.

