Ia juga melihat buku sebagai salah satu sarana diplomasi kebudayaan. Melalui karya yang diterjemahkan dan dibaca di negara lain, pengetahuan mengenai budaya dan perjalanan Indonesia dapat menjangkau masyarakat internasional.
Akses Buku Masih Menjadi Persoalan
Di tengah upaya memperluas pasar karya Indonesia, persoalan akses terhadap bahan bacaan di dalam negeri tetap menjadi bagian dari ekosistem literasi.
Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha mengatakan persoalan literasi tidak semata-mata berkaitan dengan minat baca masyarakat. Menurut dia, masyarakat memiliki ketertarikan untuk membaca, tetapi akses terhadap bahan bacaan masih menjadi persoalan.
“Nah menurut kami di IKAPI, minat baca masyarakat kita luar biasa, bagus. Hanya memang akses terhadap bahan bacaan yang masih kurang,” ujar Arys.
Karena itu, IIBF juga melibatkan perpustakaan daerah untuk membahas pengembangan koleksi serta fungsi perpustakaan sebagai ruang membaca. Arys menilai masyarakat yang tidak memiliki kemampuan membeli buku tetap perlu mendapatkan akses untuk membaca.
“Kalau orang-orang tidak bisa membeli buku, kasihlah kesempatan untuk membaca buku di perpustakaan,” katanya.
Menurut Arys, penguatan akses tersebut juga perlu diikuti penyediaan buku yang sesuai dengan kebutuhan pembaca, termasuk buku anak. Perkembangan teknologi juga membuat format bacaan semakin beragam. Buku dapat tersedia dalam bentuk fisik, digital, maupun audio.
“Yang penting adalah masyarakatnya membaca,” ujar Arys.
Ia juga melihat ketertarikan terhadap buku masih ada di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha. Menurut Arys, perpustakaan dan toko buku perlu menggunakan pendekatan baru yang lebih dekat dengan keseharian dan karakteristik kedua generasi tersebut.
Tantangan Industri Tidak Berhenti pada Kreativitas
Perluasan pasar dan pengembangan IP tetap berhadapan dengan persoalan di industri penerbitan. Biaya produksi, distribusi, pembajakan, serta perubahan pola konsumsi pembaca masih menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi penerbit.
IKAPI sebelumnya menyoroti tekanan biaya bahan baku dan distribusi terhadap industri penerbitan. Pembajakan juga menjadi persoalan karena karya beredar tanpa memberikan hak ekonomi kepada penulis maupun penerbit.
Karena itu, perkembangan industri buku tidak cukup dilihat dari jumlah judul yang diterbitkan atau ramainya pameran. Ada rantai yang lebih panjang, mulai dari penulis dan penerbit, produksi dan distribusi, perlindungan hak cipta, akses pembaca, hingga kemungkinan sebuah karya dikembangkan ke medium dan pasar lain.
IIBF 2026 memperlihatkan perubahan tersebut melalui pertemuan antara industri penerbitan dengan sektor kreatif dan pasar internasional. Agenda mengenai adaptasi buku, pengembangan IP, transaksi hak cipta, dan penerjemahan menunjukkan bahwa perjalanan sebuah karya dapat berlanjut jauh setelah buku diterbitkan.
Di sisi lain, perluasan industri tersebut tetap berhadapan dengan kebutuhan dasar pembaca di dalam negeri. Buku perlu memiliki ruang untuk berkembang sebagai karya dan IP, tetapi akses masyarakat terhadap bahan bacaan juga menjadi bagian dari keberlanjutan ekosistem literasi.



