JAKARTA – Di antara gempuran film-film animasi raksasa dari luar negeri, sebuah sekuel dari dalam negeri siap mengambil panggung. Bukan sekadar tontonan hiburan, film “Riki Rhino 2: The Bird Kingdom” didapuk sebagai bukti nyata bahwa industri animasi Indonesia memiliki taring untuk bersaing di kancah global.
Dukungan penuh datang dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, yang melihat film ini lebih dari sekadar cerita. “Riki Rhino menunjukkan bahwa animasi Indonesia memiliki daya saing global,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar. Ia menyoroti bagaimana film ini secara cerdas menanamkan pesan penting tentang pelestarian satwa langka, menjadikannya medium edukasi yang efektif bagi anak-anak.
Wamen Ekraf juga menekankan bahwa produksi seperti ini adalah kunci. “Ini perlu terus didorong karena membuka lapangan kerja baru, memperkuat rantai pasok industri kreatif, dan berpotensi menjadi the new engine of growth bagi perekonomian kita,” tambahnya.
Selanjutnya, Wamen Ekraf juga mendorong promosi yang lebih kreatif dan kolaborasi yang cerdas untuk memaksimalkan dampak film ini. Ia membayangkan IP Riki Rhino tidak hanya ada di layar lebar, tetapi juga berkembang menjadi berbagai produk turunan dan kolaborasi dengan brand-brand yang relevan.
Jony Yuwono, Direktur PT Putra Sentosa Karya Gemilang sekaligus penulis cerita, menegaskan kebanggaannya terhadap film yang sepenuhnya digarap oleh talenta lokal. “Film ini diproduksi sepenuhnya di dalam negeri oleh talenta animator Indonesia,” kata Jony. “Kami berharap talenta lokal bisa lebih dikenal dan membuka peluang baru di industri.”
Dengan pesan edukatif dan semangat kebanggaan nasional, “Riki Rhino 2: The Bird Kingdom” yang dijadwalkan tayang di tahun 2026 ini bukan hanya sebuah film, melainkan sebuah pernyataan. Sebuah bukti bahwa animasi Indonesia mampu berdiri sejajar, memperkaya perfilman nasional, dan memperkuat posisi bangsa di panggung global.



