Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak perang meluas hingga persoalan perlindungan perempuan dan anak perempuan. Ketika dukungan kemanusiaan semakin terbatas, organisasi yang menyediakan layanan bagi kelompok rentan juga menghadapi kesulitan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan pertolongan.
Situasi ini membuat perempuan dan anak perempuan menghadapi berlapis-lapis risiko, mulai dari kehilangan anggota keluarga, luka fisik dan disabilitas, hingga kekerasan berbasis gender serta tekanan ekonomi.
Menanggapi kondisi tersebut, UN Women mendesak agar gencatan senjata diimplementasikan secara penuh, hukum internasional dipatuhi, dan berbagai pelanggaran dipertanggungjawabkan.
Organisasi tersebut menekankan pentingnya upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan, sekaligus memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau mereka yang terdampak konflik.
Calltorp menggambarkan penderitaan yang dialami perempuan di Gaza sebagai krisis kolektif dengan dampak yang sangat luas. Ia juga menyoroti ketangguhan para penyintas yang harus bertahan dalam kondisi yang seharusnya tidak mereka alami.
“Apa yang telah kami temukan adalah penderitaan kolektif yang mengerikan, rasa sakit yang luar biasa, dan tingkat ketangguhan dan kekuatan yang seharusnya tidak perlu ditanggung oleh perempuan mana pun,” katanya.



