HOLOPIS.COM, JAKARTA – Situasi kemanusiaan di Gaza dilaporkan semakin memburuk di tengah pembatasan dan tekanan yang terus dialami warga Palestina. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kondisi tersebut kini tidak hanya berdampak pada kebutuhan pangan dan kesehatan fisik, tetapi juga memicu krisis kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Selasa (12/5) melaporkan adanya lonjakan permintaan layanan psikososial di Gaza dalam beberapa bulan terakhir.
Mitra kemanusiaan yang mengoperasikan layanan konseling melalui saluran telepon bebas pulsa mencatat peningkatan 14 persen sesi konseling jarak jauh sepanjang Maret hingga April tahun ini. Pada April saja, lebih dari 9.600 sesi konseling telah dilakukan.
“Peningkatan ini sangat terlihat pada kasus-kasus yang melibatkan kemunculan niat untuk bunuh diri, yang naik 90 persen,” kata OCHA, dikutip Holopis.com, Rabu (13/5).
Selain itu, PBB juga mencatat peningkatan 46 persen kasus konseling terkait kekerasan fisik berbasis gender serta kenaikan 34 persen untuk layanan yang menangani kecemasan dan ketakutan.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut ribuan warga Gaza kini hidup dengan cedera berat yang berpotensi mengubah hidup mereka secara permanen.
WHO memperkirakan lebih dari 43 ribu orang mengalami cedera serius seperti luka bakar berat, amputasi, cedera tulang belakang, hingga trauma otak. Dari jumlah tersebut, sekitar 53 ribu kasus disebut membutuhkan rehabilitasi jangka panjang.
Yang paling memprihatinkan, satu dari lima korban amputasi dilaporkan merupakan anak-anak. Meski layanan rehabilitasi disebut mulai meningkat sejak September 2025, WHO menilai kapasitas layanan kesehatan di Gaza masih jauh di bawah kondisi sebelum perang pecah pada Oktober 2023.
Saat ini, tidak ada fasilitas rehabilitasi yang beroperasi secara penuh dan lebih dari 400 pasien masih masuk daftar tunggu untuk mendapatkan perawatan khusus.
Tidak hanya di Gaza, situasi di Tepi Barat juga disebut semakin memanas. OCHA melaporkan sebuah komunitas pengungsi Palestina di Arab al Khouli, wilayah Qalqiliya, dihancurkan menggunakan buldoser yang dioperasikan pemukim Israel pada Jumat lalu.
Kawasan tersebut sebelumnya dihuni lebih dari 20 keluarga Palestina sebelum akhirnya ditinggalkan akibat serangan berulang dan pembatasan akses.
“Ini adalah salah satu dari 45 komunitas Palestina yang mengungsi sepenuhnya sejak 2023 akibat serangan pemukim yang berulang dan pembatasan akses terkait,” kata OCHA.
Menurut badan PBB tersebut, lebih dari 60 persen pengungsian warga Palestina tahun ini terjadi di wilayah Lembah Yordan akibat serangan pemukim dan pembatasan akses.
PBB pun kembali menegaskan bahwa warga Palestina di Tepi Barat harus mendapat perlindungan sesuai hukum internasional, sementara para pelaku pelanggaran diminta untuk dimintai pertanggungjawaban.



