JAKARTA – Kondisi kualitas udara di Jakarta perlu menjadi perhatian masyarakat menyusul tingginya indeks kualitas udara berdasarkan pemantauan IQAir pada Senin (7/9/2026).
Berdasarkan data real-time IQAir yang terpantau pada sekitar pukul 07.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta berada di angka 101, yang masuk kategori “Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif”.
Kondisi tersebut berarti kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap polusi udara perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Data IQAir juga menunjukkan kualitas udara Jakarta berpotensi mengalami perubahan cukup signifikan sepanjang hari. Dalam prakiraan per jam yang ditampilkan IQAir, indeks sempat meningkat hingga kisaran 145–161 pada sejumlah periode, bahkan mencapai sekitar 164 pada malam hari dalam prakiraan yang tersedia.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat tidak disarankan hanya mengandalkan kondisi udara yang terlihat secara kasatmata. Langit yang tampak cerah tidak selalu berarti udara bebas dari partikulat halus.
Perhatian di Tengah Sebaran Abu Vulkanik
Kondisi kualitas udara Jakarta ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan karena wilayah Jabodetabek dan Banten sebelumnya dilaporkan terdampak sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, angka AQI IQAir tidak dapat secara otomatis diartikan sebagai bukti bahwa seluruh polusi yang terukur di Jakarta berasal dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. AQI merupakan indikator kualitas udara secara keseluruhan dan dapat dipengaruhi berbagai jenis polutan.
IQAir sendiri menyediakan pemantauan real-time, historis dan prakiraan kualitas udara serta PM2.5 untuk Jakarta.

Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara data kualitas udara dan analisis sumber polutan. Untuk memastikan dampak serta sebaran abu vulkanik, informasi dari BMKG dan otoritas kebencanaan tetap perlu menjadi rujukan.
Kelompok Rentan Diminta Lebih Waspada
Kategori “Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif” terutama menjadi peringatan bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Pada kondisi tersebut, aktivitas fisik di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama ketika indeks kualitas udara meningkat.
Masyarakat yang harus keluar rumah juga dapat menggunakan masker atau respirator yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikulat udara.
Langkah sederhana lainnya adalah menutup jendela dan pintu ketika kondisi udara luar memburuk, menghindari aktivitas olahraga berat di luar ruangan, serta memantau perkembangan kualitas udara secara berkala.
Jangan Abaikan Perubahan AQI
Data IQAir menunjukkan kualitas udara Jakarta dapat berubah dari satu jam ke jam berikutnya. Pada data yang tersedia, AQI berada di sekitar angka 101 pada pagi hari, kemudian diproyeksikan meningkat pada sejumlah periode berikutnya.
Artinya, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat satu angka AQI pada satu waktu, tetapi juga memperhatikan trennya.
Khusus di tengah situasi sebaran abu vulkanik, perubahan arah dan kecepatan angin dapat menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak.



