Kilas Balik Perjalanan Karir Ray Sahetapy Sebagai Aktor Legendaris Indonesia

0 Shares

JAKARTA – Ray Sahetapy merupakan salah satu aktor legendaris Tanah Air yang dikenal karena dedikasinya yang luar biasa dalam dunia seni peran, baik di layar lebar maupun panggung teater. Lahir pada 1 Januari 1957, Ray mengawali hidupnya di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia.

Sejak remaja, Ray telah menaruh minat besar terhadap dunia seni peran. Demi menggapai cita-citanya sebagai aktor, ia menempuh pendidikan formal di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1977. Di sinilah ia satu angkatan dengan nama-nama besar lain seperti Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok. Masa kuliahnya di IKJ menjadi titik awal serius Ray mendalami dunia seni dan memperluas jaringan dalam lingkungan kesenian Indonesia.

Debut film layar lebar Ray dimulai pada tahun 1980 lewat film Gadis yang disutradarai oleh Nya’ Abbas Akup. Dalam proyek film inilah ia berkenalan dan menjalin cinta dengan aktris sekaligus penyanyi Dewi Yull, yang kelak menjadi istri pertamanya. Ray bukan hanya aktif di seni peran, tapi juga sempat mencoba peruntungan di dunia tarik suara. Pada 1985, ia merilis album bertajuk Say…, yang menampilkan duetnya bersama Dewi Yull lewat dua lagu populer, ‘Satu Kenyataan Lagi’ dan ‘Say…’.

Aktor Berprestasi dengan Rekam Jejak Panjang

Selama dekade 1980-an hingga 1990-an, Ray Sahetapy menjadi salah satu aktor papan atas yang kerap dinominasikan dalam ajang Festival Film Indonesia. Ia memperoleh pengakuan luas berkat penampilan-penampilannya yang penuh karakter, dalam film-film seperti Ponirah Terpidana (1984), Secangkir Kopi Pahit (1985), Kerikil-Kerikil Tajam (1985), Opera Jakarta (1986), Tatkala Mimpi Berakhir (1988), Noesa Penida (1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990). Penampilannya selalu kuat dan autentik, membuat setiap karakter yang ia perankan meninggalkan kesan mendalam di benak penonton.

Saat perfilman Indonesia mengalami kelesuan panjang di era 1990-an, Ray tak serta-merta tenggelam. Ia justru aktif membina seni teater dengan mendirikan sanggar di pinggiran kota dan membentuk komunitas teater. Kecintaannya pada seni panggung tak pernah luntur. Bahkan, lewat sanggarnya ini, ia sempat menimbulkan perdebatan karena ide-idenya yang kontroversial, seperti usulan mengganti nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara.

Pada 2006, Ray kembali menghiasi layar lebar dengan film Dunia Mereka. Tahun yang sama, ia juga terpilih sebagai salah satu ketua dalam kongres Persatuan Artis Film Indonesia, membuktikan posisi dan pengaruhnya yang kuat dalam dunia seni peran.

Ray Sahetapy menikah dengan Dewi Yull pada 16 Juni 1981, meski kala itu tidak mendapat restu dari keluarga karena perbedaan agama. Ray yang awalnya beragama Kristen, memutuskan menjadi mualaf pada tahun 1992. Pasangan ini dikaruniai empat anak: Giscka, Rama, Surya, dan Muhammad Raya. Namun pernikahan mereka harus berakhir pada 2004, ketika Dewi menggugat cerai Ray setelah menolak dipoligami.

Akhir Hidup Ray Sahetapy

Pada 1 April 2025, Ray Sahetapy menghembuskan napas terakhirnya di usia 68 tahun akibat komplikasi stroke yang telah lama ia derita. Sebelum berpulang, ia sempat menjalani perawatan intensif selama beberapa waktu. Kepergian Ray meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia seni Indonesia, terutama keluarga tercinta.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU