HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menginstruksikan seluruh jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis imbas memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
“Saya menyampaikan kepada jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk kita selalu berpikir tentang krisis. Sehingga kalau ada kekurangan, misalnya produk-produk tertentu, kita harus mempersiapkan untuk itu,” ujar Pramono sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Selasa, (3/3).
Pramono menjelaskan, Jakarta berpotensi terdampak langsung jika terjadi gangguan rantai pasok global (supply chain), terutama apabila Selat Hormuz ditutup. Jalur tersebut merupakan salah satu titik vital distribusi energi dan komoditas dunia.
“Karena pertama, supply chain-nya ini kan melalui Selat Hormuz yang di situ hampir 30 persen lebih minyak dunia itu selalu melewati selat ini, termasuk juga barang-barang yang lain. Maka kalau kemudian ini ditutup, pasti dampaknya menjadi semakin panjang, ongkos perjalanan untuk barang tersebut menjadi lebih mahal dan dampaknya kepada harga pasti akan terdampak,” jelas Pramono.
Menurutnya, penutupan jalur tersebut akan berdampak pada kenaikan biaya logistik yang pada akhirnya memicu lonjakan harga barang di pasar domestik, termasuk Jakarta.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai melakukan intervensi pasar. Salah satunya dengan mendatangkan sapi dari Australia guna menjaga kestabilan harga daging menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Pramono menyebut kebijakan tersebut sejauh ini efektif menahan kenaikan harga di pasar tradisional.
“Ini cara kita untuk supaya harga daging tidak mengalami kenaikan dan Alhamdulillah sampai hari ini tidak mengalami kenaikan,” imbuh Pramono.



