Paparan asap dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap kualitas udara yang buruk.
BPBD Papua pun meminta warga mengambil langkah perlindungan saat beraktivitas di luar ruangan.
Salah satu imbauan yang disampaikan adalah mengenakan masker untuk mengurangi paparan asap.
“Masyarakat saat beraktivitas di luar rumah atau ruangan diimbau menggunakan masker,” ujar Supanto.
Dampak kabut asap bukan sekadar mengurangi jarak pandang.
Sebagian warga juga mulai merasakan gangguan ketika beraktivitas sehari-hari.
Martha, warga Dok V, Jayapura, mengaku kabut asap yang bertahan selama beberapa hari membuat matanya terasa agak perih.
Ia juga merasakan napas yang sedikit sesak ketika kondisi tersebut terjadi.
Situasi itu membuatnya harus lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.
Martha yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk menghadapi kondisi udara tersebut.
“Kami terpaksa menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah atau ruangan,” kata Martha.
Keluhan warga ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat menjangkau masyarakat yang berada jauh dari titik kebakaran.
Asap yang terbawa angin bisa melintasi wilayah dan memengaruhi kualitas udara di daerah lain.



