JAKARTA – Direktur eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi masih merasa dikuntit oleh intelijen setiap kali dirinya beraktivitas.
“Penguntitan ini masih terus berlangsung. Kemana pun saya pergi, mereka selalu ngintai,” tulis Islah dalam tulisan di X pribadinya @islah_bahrawi seperti dikutip Holopis.com, Rabu (16/9/2026).
Ia mengaku tak mengetahui persis apa motivasi dari aktivitas pengintaian tersebut. Termasuk juga tidak diketahui persis dari institusi mana pengintai tersebut berasal.
“Tidak tahu tujuannya apa,” ujarnya.
Pun demikian, tokoh muda asal Madura ini pun menyatakan tak mempedulikan apa pun tujuan dari para pengintai tersebut. Sebab dirinya merasa tidak ada yang patut untuk diselidiki.
“Tapi satu hal, saya sudah tidak peduli. Silakan cari tahu, saya bertemu siapa dan berkegiatan apa saja. Bodo amat!,” tegas Islah.
Namun ia memberikan catatan penting dari aktivitas pengintaian yang dialaminya. Di mana menurut Islah, para pengintai sangat tidak profesional. Sebab mereka sangat mencolok ketika melakukan aktivitas intelijen yakni surveillance.
“Satu hal yang harus saya ingatkan: surveillance itu harusnya tidak boleh ketahuan. Intelijen itu senyap. Gak norak kayak gini,” tandasnya.
Betapa tidak, sepeda motor dan orang yang melakukan aktivitas pengintaian justru sangat kentara. Di mana saat itu diduga pelaku menggunakan sepeda motor jenis matic Honda Vario 125 Old berkelir merah dengan pelat nomor polisi B 3479 BTS, dengan registrasi aktif bulan Juni tahun 2028.
“Kecuali kalian memang hanya mau numpang makan atas nama perintah atasan,” pungkasnya.




