“Saya mempelajari bahwa dalam penanganan bencana, salah satu unsur yang harus dipulihkan dengan cepat adalah telekomunikasi sebagai infrastruktur digital,” jelas Heru.
Karena itu, ia mengusulkan pengembangan kendaraan taktis telekomunikasi mobile yang dapat bergerak ke wilayah terdampak dan membawa perangkat untuk memulihkan konektivitas sementara.
Kendaraan tersebut, kata Heru, dapat dirancang membawa berbagai perangkat jaringan, termasuk teknologi 4G, 5G hingga sistem komunikasi berbasis satelit atau teknologi lain yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Dengan begitu, ketika terjadi bencana, layanan dapat segera dipulihkan di lokasi terdampak. Kemudian juga informasi yang cepat sampai ke masyarakat mengenai akan terjadinya bencana atau bencana yang terjadi karena Indonesia adalah negara ring of fire dan potensi ragamnya bencana yang terjadi,” ujarnya.
Menurut Heru, konsep tersebut dapat menjadi solusi ketika Base Transceiver Station (BTS) maupun infrastruktur telekomunikasi lainnya mengalami kerusakan akibat bencana.
“Jadi ketika terjadi bencana dan BTS atau infrastruktur jaringan mengalami kerusakan, kendaraan ini bisa segera masuk ke lokasi dan menyediakan konektivitas sementara. Setelah jaringan permanen pulih, kendaraan dapat dipindahkan ke lokasi lain yang membutuhkan,” pungkasnya.



