HOLOPIS.COM, JAKARTA — Kondisi Sutrimo saat ditemukan di Klinik Mordent menjadi salah satu fokus pemeriksaan dalam penyelidikan. Pengemudi ambulans yang datang ke lokasi menemukan Sutrimo sudah dalam keadaan meninggal dunia, dengan busa keluar dari mulut dan hidung korban.
Wadirreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP I Dewa Putu Gede Anom, menjelaskan kondisi korban ketika pengemudi ambulans tiba di lokasi. Busa tersebut kemudian dilap oleh driver ambulans menggunakan handuk yang digunakan untuk alas kepala korban, dan setelah itu keluar cairan berwarna kekuningan dari mulut dan hidung.
“Pada saat driver ambulans datang, ditemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Kemudian ditemukan juga dari mulut dan hidung mengeluarkan busa,” kata Anom saat konferensi pers Ditreskrimum Polda Metro Jaya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/9).
Anom menjelaskan, setelah dilakukan pembersihan, driver ambulans menemukan adanya cairan lain yang keluar dari mulut dan hidung korban.
“Busa tersebut kemudian dilap oleh driver ambulans, kemudian keluar cairan berwarna kekuningan dari mulut dan hidung,” ujar Anom.
Temuan mengenai busa tersebut kemudian diperiksa dalam rangkaian pemeriksaan forensik setelah jenazah Sutrimo diekshumasi. Ketua Tim Ekshumasi Prof Ahmad Yudianto menjelaskan penyebab munculnya busa dari mulut. Kondisi ini terjadi karena adanya cairan dan mukus di paru-paru yang menyumbat saluran napas, sehingga keluar busa berwarna putih.
“Busa yang keluar dari mulut itu disebabkan karena adanya edema paru akut,” kata Ahmad.
Ahmad menjelaskan mekanisme terjadinya edema paru akut yang menyebabkan busa keluar dari mulut dan hidung korban.
“Jadi cairan dan mukus yang ada di paru-paru itu kemudian menyumbat saluran napas sehingga keluar busa berwarna putih,” ujarnya.
Namun, pemeriksaan langsung terhadap busa tidak dapat dilakukan karena sampelnya tidak diterima untuk pemeriksaan laboratorium. Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri menyatakan bahwa mereka tidak menerima sampel busa, sehingga tidak bisa melakukan pemeriksaan terhadap senyawa apa yang terkandung di dalamnya.
“Untuk busanya sendiri tidak ada sampel yang diterima, sehingga tidak bisa dilakukan pemeriksaan terhadap busa tersebut,” kata keterangan Puslabfor.
Sebagai gantinya, Puslabfor Fahmi memeriksa sejumlah barang yang ditemukan di lokasi, termasuk dua botol berisi cairan merek Fit sisa pakai, satu botol berisi cairan merek Onemed, satu plastik berisi serbuk putih, dan satu potong sarung bantal. Dari hasil pemeriksaan terhadap sarung bantal, Puslabfor menemukan adanya kandungan kafein.
“Ditemukan dua botol cairan merek Fit sisa pakai, satu botol berisi cairan merek Onemed, satu plastik berisi serbuk putih dan sagu potong sarung bantal dari hasil pemeriksaan, untuk sarung bantal itu ditemukan adanya kafein,” ujar Fahmi.



