JAKARTA – Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan beberapa rumah sakit sudah mencatat jumlah kematian akibat kelaparan sudah bertambah lima orang. Hal ini mengakitakan total korban meninggal dunia akrena malnutrisi selama perang menjadi 127 orang, termasuk 85 anak-anak.
Akibat kemarahan luar biasa dari komunitas internasional karena permasalahan ini, Israel pun mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan serangan di pusat-pusat sipil dan koridor kemanusiaan untuk memungkinkan paoskan bantuan dilakukan.
Namun, Israel tetap menyalahkan pihak lain atas apa yang sudah terjadi di Gaza saat ini. Mereka menyalahkan PBB karena tidak mendistribusikan bantuan di Gaza. Kemudian PBB mengatakan bahwa pernyataan Israel ini tidak lah benar, dan menekankan bahawa mereka belum menerima izin yang dibutuhkan untuk mendistribusikan bantuan dengan aman.
PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan yang Memburuk di Gaza
Sementara itu, Kepala Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina, Philippe Lazzarini, memperingatkan memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza seraya menyerukan langkah-langkah mendesak untuk mencegah kematian lebih lanjut akibat kelaparan.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Lazzarini menyatakan keprihatinannya terhadap mekanisme distribusi bantuan yang dipimpin oleh Gaza Humanitarian Foundation, sebuah organisasi swasta yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Sistem distribusi yang cacat ini tidak dirancang untuk menangani krisis kemanusiaan. Sistem ini melayani tujuan militer dan politik. Ini kejam karena lebih banyak mengambil nyawa daripada menyelamatkannya,” katanya.
Sebagai informasi, saat ini Otoritas kesehatan Gaza melaporkan ada sembilan kematian tambahan akibat kelaparan dan malanutrisi dalam 24 jam terakhir, sehingga total kematian terkait kelaparan sejak dimulainya konflik pada Oktober 2023 itu menjadi 122.



