HOLOPIS.COM, JAKARTA – Franchise and Licence Expo (FLEI) Business Show 2026 kembali digelar sebagai ruang pertemuan bagi pelaku usaha, pemilik merek, calon mitra, dan investor. Memasuki edisi ke-27, FLEI Business Show memasuki edisi ke-27, FLEI Business Show mengusung tema ‘Connecting Business, Driving Growth’ dan akan berlangsung pada 9 hingga 11 Oktober 2026 di Hall 6 Nusantara International Convention & Exhibition (NICE) PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten.
Project Manager FLEI Business Show, Rulief Haryanto, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan ratusan brand dari berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, jasa, ritel, hingga solusi ritel dan lisensi. FLEI juga digelar bersamaan dengan Cafe & Brasserie Expo (CBE) serta Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE).
“Kami ingin pengunjung pulang bukan hanya membawa brosur, tapi juga kontak dan peluang kerja sama yang nyata,” ujar Rulief dikutip Holopis.com, saat konferensi pers FLEI Business Show di GoWork, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026).
Selain menghadirkan tiga pameran, FLEI Business Show 2026 juga menggelar seminar dengan pembicara dari lima negara ASEAN. Rulief mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan bisnis di Singapura, Malaysia, Taiwan, Vietnam, dan Thailand.
“Selain kita berkolaborasi dengan dua event, edisi kali ini kita mempunyai seminar yang mengundang pembicara dari lima negara untuk bisa meng-share overview (membagikan gambaran umum) dari masing-masing negara, dari Singapura, Malaysia, Taiwan, Vietnam, dan Thailand,” kata Rulief.
Peserta juga dapat memanfaatkan Business Matching untuk bertemu dengan pemilik merek, calon mitra, investor, distributor, dan reseller. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara yang mempertemukan pelaku usaha dengan pihak yang memiliki peluang untuk menjalin kerja sama.
Selain itu, FLEI Business Show 2026 menghadirkan FLEI Business Conference dengan lebih dari 10 pembicara serta rangkaian masterclass dan workshop. Program tersebut ditujukan bagi calon mitra dan pelaku UMKM yang ingin memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan usaha.
Franchise Consultant dari Franchise Academy Indonesia, Evi Diah Puspitawati, mengingatkan calon mitra untuk memanfaatkan pameran dengan datang membawa pertanyaan dan tujuan yang jelas. Menurutnya, informasi mengenai rekam jejak bisnis dan dukungan dari pemilik merek penting diketahui sebelum memilih bentuk kerja sama.
“Datanglah dengan pertanyaan dan tujuan yang jelas. Tanyakan berapa lama bisnis sudah dijalankan, berapa jumlah outletnya berapa balik modalnya, seperti apa dukungan dari pemilik merek, dan bagaimana kinerja outlet yang sudah berjalan,” ujar Evi.
Evi juga mengatakan peluang pengembangan bisnis waralaba masih terbuka di berbagai daerah. Menurutnya, pelaku usaha lokal di luar Jawa dapat memperluas bisnisnya, sementara brand dari Jakarta memiliki peluang mengembangkan usaha ke daerah.
“Jadi sebenarnya potensi itu masih cukup banyak, baik dari Jawa ke daerah atau dari daerah juga mengembangkan ke seluruh wilayah Indonesia. Itu cukup banyak, semuanya punya potensi untuk dikembangkan,” ujar Evi.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Ginting Supit, mengatakan industri waralaba Indonesia masih mencatat pertumbuhan di tengah berbagai tekanan ekonomi. Ia menyebut nilai bisnis waralaba saat ini telah mencapai lebih dari Rp143 triliun dengan pertumbuhan rata-rata 10 hingga 15 persen per tahun.
Dalam konferensi pers, Levita juga menyebut pelemahan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Meski demikian, menurutnya, bisnis waralaba masih menunjukkan peningkatan sepanjang 2026, meski pertumbuhan tahunan belum dapat dihitung secara penuh karena tahun berjalan belum berakhir.




