HOLOPIS.COM, JAKARTA – Memulai bisnis waralaba membutuhkan pertimbangan yang matang sebelum calon mitra menginvestasikan modal. Banyaknya pilihan merek dan rentang investasi membuat calon penerima waralaba atau franchisee perlu mengetahui bisnis yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.
Konsultan waralaba dari Franchise Academy Indonesia, Evi Diah Puspitawati, membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan calon franchisee sebelum menentukan bisnis yang akan dijalankan. Salah satunya dengan menentukan sektor usaha sesuai minat, seperti makanan dan minuman (F&B), pendidikan, kecantikan dan kesehatan, jasa, maupun retail.
“Yang pertama tentukan dulu minatnya di industri apa. Karena tadi, ya, beragam tadi, pilih apa. Misalnya kalau pendidikan, mau apa, kalau misalnya di F&B, F&B apa gitu,” ujar Evi saat ditemui Holopis.com, setelah konferensi pers FLEI Business Show 2026, di Jakarta Pusat, Rabu (16/9).
Setelah menentukan sektor usaha, calon mitra perlu melihat kemampuan finansial sebelum memilih merek tertentu. Besaran investasi waralaba memiliki rentang yang cukup luas, sehingga jumlah modal yang tersedia perlu disesuaikan dengan bisnis yang ingin dijalankan.
“Jadi tentukan juga berapa dana yang kita mau alokasikan di bisnisnya nanti. Bayangin di franchise itu mulai dari, ya, katakanlah Rp20 jutaan sampai Rp20 miliaran juga ada gitu, jadi range (kisaran) nya lebar banget,” katanya.
Kemampuan finansial tersebut juga perlu memperhitungkan kebutuhan operasional setelah bisnis dibuka. Dengan begitu, modal yang disiapkan tidak hanya cukup untuk investasi awal, tetapi juga mendukung keberlangsungan usaha.
Setelah menentukan sektor dan anggaran, calon franchisee dapat mulai menyeleksi merek yang sesuai. Pada tahap ini, calon mitra disarankan tidak langsung mengambil keputusan hanya karena mendapat penawaran uang muka atau promosi selama pameran.
“Waktu memilih itu, karena pamerannya tiga hari, itu benar-benar jangan keburu nafsu. Kadang-kadang kan tergoda ya sama orang marketing, wah, suruh DP, suruh DP, jangan gitu. Jadi amati dulu, pelajari dulu, tanya, kalau perlu datang ke outlet (gerai) nya, lihat,” ujarnya.
Untuk memastikan bisnis yang dipilih sesuai dengan ekspektasi, calon mitra dapat melihat langsung gerai yang telah berjalan. Mereka juga perlu menanyakan sistem operasional, keberadaan tim pendukung, serta bentuk dukungan yang diberikan franchisor (pemberi waralaba) kepada franchisee (penerima waralaba).
Informasi tersebut kemudian perlu dilanjutkan dengan perhitungan keuangan. Calon franchisee perlu mengetahui target omzet, harga pokok penjualan (HPP), biaya operasional, dan potensi keuntungan dari bisnis yang diminati.
Perhitungan itu dapat digunakan untuk mengetahui perkiraan waktu balik modal atau break even point (BEP). Karena itu, calon mitra disarankan meminta franchisor menjelaskan dasar dari simulasi balik modal yang ditawarkan.
“Angka itu penting. Jangan cuma dibilangin, oh, modalnya segini nanti balik modal segini. Yang harus dicari tahu adalah gimana caranya. Gimana caranya tuh untuk dapat segitu tuh gimana caranya,” imbuhnya.
Setelah memahami perhitungan bisnis, calon mitra juga perlu memeriksa perjanjian sebelum kerja sama dimulai. Isi perjanjian perlu dipahami agar franchisee mengetahui hak dan kewajibannya selama menjalankan bisnis.




