JAKARTA, HOLOPIS.COM – Pemerintah Kabupaten Bone melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) mengintegrasikan teknologi irigasi berbasis digital Uwai Tuo Mannennungeng ke dalam Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya air melalui pemanfaatan teknologi pada sistem irigasi pertanian.
Implementasi teknologi tersebut mengacu pada Berita Acara Hasil Rapat Kerja Komisi Irigasi tentang Pengelolaan Aset Jaringan Irigasi Air Tanah Kewenangan Kabupaten Bone.
Dokumen itu menjadi landasan penerapan Uwai Tuo Mannennungeng pada jaringan irigasi air tanah yang dikelola pemerintah daerah sekaligus membuka peluang penerapannya pada lokasi lain yang memiliki karakteristik serupa.
Keputusan tersebut disampaikan dalam Rapat Pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan (O&P) Jaringan Irigasi Air Tanah yang berlangsung di Hotel Novena, Watampone, Kamis (30/7).
Forum tersebut dihadiri oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, jajaran Dinas SDABK Kabupaten Bone, petugas operasi daerah irigasi, serta perwakilan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A).
Kepala Dinas SDABK Kabupaten Bone, Kasdar mengatakan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi agar lebih efektif dan efisien.
“Uwai Tuo Mannennungeng memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus memperkuat kinerja jaringan irigasi. Berita Acara Komisi Irigasi menjadi dasar bagi kami untuk mengimplementasikan teknologi ini dalam program JIAT dan mengembangkannya pada lokasi lain sesuai kebutuhan,” kata Kasdar dalam pernyataannya beberapa waktu lalu.
Uwai Tuo Mannennungeng merupakan sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan oleh Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah Universitas Hasanuddin (UKM KPI Unhas) melalui program Smart Hydro Loop.
Sistem tersebut dirancang untuk memantau kondisi lahan secara real time dan mengoptimalkan penggunaan air dengan tingkat efisiensi hingga 25 persen.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad mengatakan, penerapan teknologi dalam program pemerintah daerah menjadi peluang untuk memperluas pemanfaatan inovasi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi.
“Kami mengapresiasi dukungan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bone terhadap inovasi ini. Harapannya, implementasi Uwai Tuo Mannennungeng dalam program JIAT dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam pengembangan sektor pertanian,” kata Fadel.
Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. Penerapan teknologi digital dalam program tersebut diharapkan dapat memperkuat efektivitas pengelolaan sumber daya air sekaligus mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian.




