Walaupun selisihnya relatif tipis, Anthony memperkirakan jarak tersebut berpotensi semakin lebar apabila Indonesia tidak memperbaiki strategi pembangunan ekonominya.
Kritik terhadap Strategi Pertumbuhan Indonesia
Anthony menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen belum cukup untuk disebut sebagai keberhasilan apabila tidak disertai penguatan industri, penciptaan lapangan kerja dengan upah layak, dan penurunan kemiskinan secara signifikan.
Ia bahkan mempertanyakan apakah pertumbuhan yang relatif bertahan di kisaran tersebut selama bertahun-tahun telah menghasilkan perubahan struktural yang memadai bagi perekonomian nasional.
Menurut Anthony, ketergantungan pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia belum cukup kuat dalam membangun basis industri manufaktur yang kompetitif.
Sebaliknya, ia menilai Vietnam memperoleh hasil lebih besar melalui pengembangan manufaktur yang berorientasi ekspor. Strategi tersebut, menurutnya, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi, peningkatan ekspor, serta proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan internasional yang lebih rendah.
Anthony mengkritik pendekatan pembangunan Indonesia yang, dalam pandangannya, masih terlalu bertumpu pada komoditas dan belum diikuti industrialisasi manufaktur yang memadai.
Ia mengingatkan, apabila arah kebijakan tersebut tidak berubah, Indonesia berisiko semakin tertinggal dari negara-negara tetangga yang berhasil meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat daya saing industrinya.
Bagi Anthony, tantangan Indonesia bukan semata-mata mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan membangun fondasi produksi yang mampu mendorong ekspor manufaktur, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



