NEXT Indonesia Center Sebut Sejumlah Indikator Ekonomi Kuartal III-2026 Masih Positif

2 Shares
Ukuran Teks:
20
Dengarkan:

Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perkembangan positif hingga kuartal III-2026. Kinerja konsumsi masyarakat, investasi, aktivitas industri manufaktur, hingga neraca perdagangan dinilai berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut.

Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan konsumsi masyarakat yang menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kondisi serupa juga terlihat pada investasi yang didukung peningkatan penanaman modal asing (PMA).

“Hingga triwulan III-2026, aktivitas konsumsi masyarakat yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) masih tumbuh positif. Begitu pun dengan investasi, yang ditopang oleh gairah para pemodal asing atau Penanaman Modal Asing (PMA). Perkembangan ini memberikan sinyal baik bagi pertumbuhan ekonomi,” kata Herry kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan publikasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun atau tumbuh 7,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh realisasi PMA yang meningkat 27,43 persen. Kenaikan investasi asing itu mampu mendorong kinerja investasi secara keseluruhan, meskipun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami kontraksi.

Herry mengatakan perkembangan investasi juga tercermin dari penyaluran kredit perbankan yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, investasi merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan PDB dengan kontribusi sekitar 29 persen.

“Data penyaluran kredit yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia turut memperkuat perkembangan investasi, indikator ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar kedua bagi PDB, yakni sekitar 29 persen,” ujarnya.

Pada kuartal III-2026, seluruh jenis kredit berdasarkan penggunaannya tercatat tumbuh. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit investasi yang meningkat 23,20 persen secara tahunan.

Aktivitas positif juga terlihat pada sektor industri pengolahan yang menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional, dengan porsi sekitar 19 persen.

Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,4 pada September 2026. Posisi di atas angka 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.

“Data kenaikan indeks manufaktur Indonesia dari S&P Global yang berada di atas angka 50 menunjukkan bahwa industri pengolahan di Tanah Air sedang mengalami ekspansi, bukan sedang wait and see,” kata Herry.

Ia menilai perkembangan tersebut memberikan harapan terhadap perbaikan penyerapan tenaga kerja di sektor formal.

S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 merupakan yang tertinggi sejak Februari 2026. Kondisi itu mencerminkan peningkatan aktivitas pabrik, dengan produksi dan pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
2 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!