Hari Kopi Internasional 2026, Ternyata Biji Kopi Adalah Benih Buah

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Secangkir kopi ternyata bukan sekadar teman begadang atau minuman pembuka pagi. Di baliknya terdapat rantai produksi dan perdagangan yang menghubungkan berbagai negara. Hal tersebut menjadi salah satu sorotan Hari Kopi Internasional 2026 melalui tema “Coffee is Part of the Solution” yang diusung International Coffee Organization (ICO).

Hari Kopi Internasional diperingati setiap 1 Oktober. Gagasan untuk menjadikan tanggal tersebut sebagai perayaan kopi secara global disepakati negara-negara anggota ICO pada Maret 2014. Peringatan perdananya berlangsung pada 1 Oktober 2015, bersamaan dengan sesi ke-115 International Coffee Council dan Global Coffee Forum di Expo Milano 2015, Italia.

Momentum tersebut kemudian mendapat pengakuan di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada 10 Maret 2026, Majelis Umum PBB menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kopi Internasional melalui Resolusi 80/248.

Skala industri kopi juga terlihat dari banyaknya masyarakat yang terlibat di dalamnya. Mengutip laman resmi International Coffee Day, lebih dari 125 juta orang di seluruh dunia bergantung pada kopi untuk penghidupan, dengan rantai sektor yang mencakup petani, koperasi, peneliti, pedagang, pemanggang kopi, barista, pelaku usaha, hingga konsumen.

Kopi Ternyata Bukan Biji

Di balik peringatan tersebut, ada fakta tentang kopi yang mungkin masih sering keliru dipahami. Kopi yang selama ini disebut sebagai “biji kopi” sebenarnya merupakan benih yang berada di dalam buah kopi.

Melansir laman Food and Agriculture Organization (FAO), buah kopi dikenal sebagai ceri kopi (coffee cherry). Ketika matang, buah ini umumnya berubah menjadi merah dan memiliki satu atau dua benih di bagian dalamnya. Benih tersebut kemudian dipisahkan dari kulit dan daging buah melalui proses pengolahan sebelum dikeringkan, disangrai, dan akhirnya menjadi kopi yang siap diseduh.

Proses pemisahan benih dari buah kopi dapat dilakukan dengan beberapa metode. Pada metode kering, buah kopi dikeringkan terlebih dahulu sebelum bagian luarnya dipisahkan. Sementara pada metode basah, kulit dan bagian daging buah dipisahkan lebih dahulu sebelum benih menjalani proses pengeringan.

Perbedaan metode pengolahan tersebut dapat memengaruhi kualitas dan karakter kopi. Artinya, perjalanan kopi menuju secangkir minuman sudah dimulai sejak buahnya dipanen, jauh sebelum bijinya disangrai dan digiling.

Berawal dari Legenda Kaldi

Cerita mengenai bagaimana manusia pertama kali mengenal kopi juga memiliki versi yang populer di masyarakat. Salah satunya adalah legenda tentang Kaldi, seorang penggembala kambing dari Ethiopia sekitar tahun 850 Masehi.

Mengutip laman ICO, Kaldi disebut memperhatikan kambing-kambingnya menjadi lebih aktif setelah memakan buah merah dari tanaman kopi. Ia kemudian mencoba buah tersebut dan merasakan efek serupa. Kisah itu berkembang sebagai salah satu legenda tentang awal mula manusia mengenal kopi.

Namun, kisah Kaldi tidak memiliki bukti sejarah yang menunjukkan bahwa dirinya merupakan orang pertama yang menemukan kopi. Sejarah yang lebih terdokumentasi menunjukkan tanaman kopi berasal dari Afrika, khususnya Ethiopia, sebelum penggunaannya sebagai minuman berkembang di Yaman dan kemudian menyebar ke Timur Tengah, Eropa, hingga berbagai wilayah lainnya.

Kopi Punya Lebih dari 100 Spesies

Kopi memiliki keragaman spesies yang jauh lebih besar daripada jenis yang umum digunakan dalam perdagangan. Royal Botanic Gardens, Kew mencatat terdapat 124 spesies dalam genus Coffea. Namun, produksi kopi dunia terutama bergantung pada Arabika (Coffea arabica) dan Robusta (Coffea canephora).

Indonesia sendiri membudidayakan beberapa jenis kopi, mulai dari Arabika, Robusta, hingga Liberika. Kementerian Pertanian mencatat sejumlah varietas yang dikembangkan di dalam negeri, di antaranya Arabika Sigarar Utang, Gayo 1, Gayo 2, dan Komasti, serta Liberika Libtukom dan Liberoid Meranti (LIM) 1 dan 2.

Keragaman kopi Indonesia juga terlihat dari kopi yang berkembang di berbagai daerah. Sejumlah di antaranya telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis, seperti Kopi Arabika Gayo dari Aceh, Kintamani dari Bali, Flores Bajawa dari Nusa Tenggara Timur, Toraja dari Sulawesi Selatan, Java Preanger dari Jawa Barat, dan Robusta Lampung.

Keragaman tersebut menjadi penting karena lebih dari 60 persen spesies kopi liar masuk dalam kategori terancam kepunahan berdasarkan asesmen Kew terhadap 124 spesies kopi. Ancaman terhadap spesies liar antara lain berkaitan dengan perubahan iklim, deforestasi, serta hama dan penyakit.

Salah satu spesies yang menarik perhatian adalah kopi stenophylla (Coffea stenophylla) asal Afrika Barat. Spesies ini sempat tidak ditemukan di alam liar sejak 1954 sebelum kembali ditemukan di Sierra Leone pada 2018. Setelah ditemukan kembali, kopi stenophylla diteliti karena memiliki toleransi terhadap suhu yang lebih tinggi dibandingkan Arabika.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU