HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) punya cara berbeda untuk mengajak masyarakat datang dan mengenal ruang baca. Melalui program ‘Night at the Library’, perpustakaan menghadirkan kegiatan musik dan hiburan di tengah ruang yang selama ini dikenal sebagai tempat sunyi untuk membaca.
Pustakawan Ahli Pertama Perpustakaan Jakarta, Gatot Ramanugraha, menyebut kegiatan tersebut sebagai cara untuk menjangkau masyarakat yang belum pernah berkunjung ke perpustakaan.
“Intinya nge-prank masyarakat sih. Jadi ngadain musik di sini untuk memperkenalkan ke masyarakat yang belum pernah ke sini, untuk datang ke sini,” ujar Gatot saat ditemui Holopis.com, di Perpustakaan Jakarta, Rabu (16/9).
Menurut Gatot, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara Perpustakaan Jakarta mengenalkan suasana dan fungsi perpustakaan kepada masyarakat melalui aktivitas yang berbeda. Masyarakat yang datang untuk mengikuti acara dapat sekaligus melihat ruang, fasilitas, serta kegiatan lain yang tersedia di dalam perpustakaan.
Salah satu contoh pelaksanaannya terlihat dalam ‘Night at the Library Vol. 17’ yang digelar pada 17 Juli 2026 lalu. Berdasarkan unggahan Instagram @perpusjkt, kegiatan tersebut menghadirkan Yovie Widianto, Dewi Lestari, Vina Muliana, Deki Sutrisna, dan Mocca.
Rangkaian acara tersebut berlangsung di ruang baca tangga, salah satu area ikonik Perpustakaan Jakarta yang berada di antara lantai empat dan lima. Area berupa tangga kayu berundak yang luas tersebut juga dikenal dengan sebutan rak tangga.
Ruang tersebut kemudian disulap menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan, mulai dari obrolan mengenai karier di era ekonomi kreatif, stand-up comedy, hingga penampilan musik. Penggunaan area perpustakaan untuk kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa ruang baca dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih beragam.
Bagi Perpustakaan Jakarta, pendekatan tersebut berkaitan dengan upaya mengubah cara masyarakat memandang perpustakaan. Gatot mengatakan masih ada pandangan yang mengidentikkan perpustakaan dengan buku dan suasana yang harus senyap.
“Dapat merubah mindset masyarakat sih, cara berpikir masyarakat tentang perpustakaan. Mungkin sebelumnya masyarakat berpikiran perpustakaan itu cuma buku, koleksi buku yang harus senyap, harus sepi gitu,” kata Gatot.
Ia menjelaskan, perpustakaan juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas selama tetap mengikuti aturan yang berlaku. Konsep itu yang kemudian disebutnya sebagai ruang ketiga bagi masyarakat.
“Perpustakaan itu bisa dijadikan sebagai ruang ketiga bagi masyarakat. Di sini teman-teman, masyarakat bisa berdiskusi, berkegiatan, menjadikan ruang publik yang dapat digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Selain membaca dan belajar, perpustakaan juga memberi ruang untuk kegiatan rekreasi. Gatot mengatakan pengunjung tetap diperbolehkan melakukan aktivitas seperti berfoto selama menjaga ketertiban selama berada di area perpustakaan.
“Jadi salah satu fungsi perpustakaan itu nggak hanya menyediakan koleksi buku aja, tapi sebagai fungsi rekreasi juga,” ujar Gatot.




