Eks Wakil BGN Lodewyk Pusung Beberkan Komunikasi & Hubungannya dengan Menhan Sjafrie

Kenapa saya WhatsApp beliau? Karena saya berada di situ melalui beliau. Beliau yang memerintahkan saya menjabarkan perintah Pak Presiden.

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Letjen (Purn) Lodewyk Pusung menyeret nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam pusaran perkara dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjeratnya. Sebelum ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka kasus itu, Pusung sempat menghubungi Sjafrie Sjamsoeddin.

Demikian terungkap saat Pusung memberikan keterangan dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026). Pusung menghubungi Sjafrie melalui WhatsApp pada 1 Juni 2026. Pada 3 Juni 2023, Pusung ditangkap, ditetapkan sebagai tersangka, dan ditahan.

“Awalnya saya mengirim WhatsApp kepada Bapak Sjafrie Sjamsoeddin. Saya sampaikan ke beliau karena saya sudah agak terlambat, saya berusaha menghadap beliau tetapi beliau sibuk. Akhirnya saya WhatsApp tanggal 1 Juni. Saya sampaikan, ‘Bapak, saya difitnah’,” ujar Lodewyk Pusung, seperti dikutip Holopis.com.

Pusung lalu menerangkan alasannya menghubungi Sjafrie saat itu. Pusung menyebut keberadaanya di BGN tak luput dari campur tangan Sjafrie.

“Kenapa saya WhatsApp beliau? Karena saya berada di situ melalui beliau. Beliau yang memerintahkan saya menjabarkan perintah Pak Presiden. Saya bilang, ‘Bapak, saya ini difitnah. Saya dibilang minta mobil BMW tipe baru’. Ini fitnah,” ujar Pusung.

Pusung merasa dirinya merasa menjadi korban fitnah terkait pengadaan proyek MBG. Selain tudingan meminta kendaraan BMW baru, Pusung juga membantah mengatur proyek tender, maupun menerima bagian uang dari pihak-pihak yang mengurus titik dapur MBG.

“Saya difitnah lagi bahwa semua proyek tender itu lewat Pak Pusung. Ini fitnah. Ada juga saya ditelepon seseorang untuk menyampaikan itu. Kemudian ada lagi masalah Ibu Widhi. Dia datang bersama bapaknya. Bapaknya itu Pak Wang Naing, kakak kandung Pak Sjafrie Sjamsoeddin,” ujar Pusung.

“Widhi mendapatkan tiga titik. Dan dia membayar sejumlah uang menurut pengakuannya pada April 2026. Beliau menyampaikan, ‘Saya bayar Rp 380 juta’. Terus beliau bilang katanya Rp 300 juta itu untuk Pak Pusung. Saya bilang ‘Siapa yang bilang?’. ‘Itu kata si Catur’. Catur itu broker yang sampai sekarang tidak tahu di mana,” sambung Pusung.

Pusung mengklaim, hal-hal tersebut disampaikannya ke Sjafrie. Lalu Sjafrie meresponnya ‘curhat’ Pusung tersebut.

“Beliau jawab ‘Kesimpulan Presiden, Kepala dan dua Waka diganti’. Saya jawab lagi, ‘Siap Bapak, kalau masalah satu Waka itu saya, saya sangat siap menerima ini. Tapi kalau saya diganti karena fitnahan di atas yang saya WhatsApp Bapak itu, ini tidak baik bagi diri saya ke depan’. Beliau jawab lagi, ‘Laporan BPKP’,” kata Pusung.

Pusung menyebut komunikasinya dengan Sjafrie ada pada telepon genggamnya yang telah disita Kejagung. “Saya jawab lagi, ‘Siap Pak, saya akan berkoordinasi dengan Pak Ateh karena saya sering diskusi dengan Pak Ateh’,”ujar Pusung.

Ateh yang dimaksud Pusung adalah Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh. Dikatakan Pusung, saat itu Ateh menyampaikan belum dapat memberikan penjelasan dan meminta dirinya menunggu hingga pekan berikutnya.

Pusung menggunakan komunikasi tersebut untuk menegaskan bahwa sebelum penangkapan tidak pernah ada konfirmasi langsung dari BPKP mengenai dugaan pelanggaran yang dituduhkan kepadanya.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Rangga Tranggana
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Rangga Tranggana, Muhammad Ibnu Idris

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU