JAKARTA – Memasuki 1.000 hari konflik yang disebut sebagai genosida di Palestina, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk. Di tengah kondisi tersebut, Dompet Dhuafa memastikan amanah masyarakat Indonesia terus disalurkan kepada warga Palestina melalui berbagai jalur kemanusiaan.
Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini, mengatakan selama hampir tiga tahun terakhir lembaganya terus bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, jejaring kemanusiaan internasional, serta mitra lokal di Gaza agar bantuan tetap dapat menjangkau masyarakat meski akses distribusi sangat terbatas.
Menurut Ahmad, bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan pangan, layanan kesehatan, hingga dukungan bagi fasilitas publik yang terdampak perang.
“Rangkaian program kemanusiaan yang dijalankan untuk Palestina, di antaranya adalah distribusi paket pangan darurat bagi keluarga pengungsi; pengiriman obat-obatan, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, termasuk dukungan operasional ambulans dan layanan medis di Gaza serta bantuan bahan bakar untuk rumah sakit; pengadaan perlengkapan musim dingin seperti selimut dan matras; dukungan dapur umum dan distribusi makanan siap saji; penyediaan air bersih melalui pembangunan sumur dan distribusi air; serta pengiriman truk-truk kontainer bantuan kemanusiaan melalui Mesir bersama misi kemanusiaan Indonesia,” ujar Ahmad dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Ia menambahkan, pada 2026 Dompet Dhuafa kembali mengirimkan tim kemanusiaan ke Mesir dengan membawa kontainer berisi bahan pangan dan alat kesehatan. Selain itu, ambulans wakaf yang telah beroperasi di Gaza masih terus memberikan layanan bagi korban konflik.
“Pada 2026, Dompet Dhuafa kembali mengirimkan tim kemanusiaan menuju Mesir dengan membawa kontribusi berupa kontainer berisi bahan pangan dan alat kesehatan. Ambulans wakaf yang telah beroperasi di Gaza juga terus melayani warga yang menjadi korban konflik, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan medis di tengah keterbatasan. Selain itu, Dompet Dhuafa juga terlibat langsung dalam pengiriman relawan kemanusiaan melalui solidaritas global untuk Palestina di Global Sumud Flotilla dan Global Peace Convoy Indonesia,” katanya.
Selain memberikan bantuan darurat, Dompet Dhuafa juga mulai menyiapkan dukungan untuk fase pemulihan setelah konflik. Program tersebut meliputi penguatan fasilitas kesehatan, penyediaan peralatan medis, hingga rehabilitasi layanan publik apabila situasi memungkinkan.
Di sisi lain, Dompet Dhuafa mengapresiasi tingginya solidaritas masyarakat Indonesia terhadap rakyat Palestina. Menurut lembaga tersebut, donasi yang terus mengalir menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak mengurangi kepedulian masyarakat Indonesia terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi.
Dompet Dhuafa menegaskan, bagi lembaganya, Palestina bukan sekadar isu politik internasional, melainkan panggilan kemanusiaan. Setiap bantuan yang diamanahkan masyarakat diupayakan dapat menjadi makanan bagi mereka yang kelaparan, obat bagi korban yang terluka, perlindungan bagi para pengungsi, sekaligus menghadirkan harapan bagi anak-anak yang hidup di tengah konflik.
Berdasarkan data yang disampaikan Dompet Dhuafa, sekitar 90 persen wilayah Gaza telah mengalami kerusakan, sebagian besar kawasan tidak lagi layak dihuni, sementara krisis pangan dan layanan kesehatan terus memburuk. Diperkirakan hampir 400 ribu warga hanya mampu makan sekali dalam sehari, sedangkan lebih dari 62 persen persediaan obat-obatan untuk layanan kesehatan primer telah habis. Rumah sakit yang masih beroperasi pun harus bertahan di tengah keterbatasan listrik, bahan bakar, obat-obatan, dan tenaga medis.


