HOLOPIS.COM, JAKARTA – Serangan udara, tembakan dari kapal perang, penembakan artileri, serta penembakan senjata api melanda kawasan permukiman di Gaza sepanjang akhir pekan, sementara kelangkaan bahan bakar mengganggu berbagai layanan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mengatakan bahwa mitra-mitra keamanan dan keselamatan melaporkan insiden-insiden tersebut terjadi di seluruh kegubernuran selama akhir pekan terutama di sebelah barat.
OCHA mengatakan bahwa PBB sangat prihatin terhadap laporan-laporan ini, terutama karena warga sipil termasuk di antara mereka yang tewas.
Kerem Shalom/Karem Abu Salem saat ini masih menjadi satu-satunya jalur perlintasan yang tersedia untuk masuknya bantuan ke Gaza. Pos pemeriksaan Israel yang didirikan pada awal Juni di Gaza selatan tidak lagi menyebabkan keterlambatan besar bagi konvoi bantuan yang menuju perlintasan tersebut.
Selama akhir pekan dan hingga Senin pagi waktu setempat, PBB telah mengumpulkan sejumlah pengiriman dari perlintasan itu, termasuk makanan, selimut, perlengkapan pendidikan, barang-barang hiburan untuk anak-anak, perlengkapan kebersihan, serta bahan bakar.
“Para mitra terus menyerukan penambahan titik perlintasan dan pencabutan pembatasan terhadap barang-barang yang sulit memperoleh persetujuan,” kata OCHA dalam pernyataan resminya seperti dikutip Holopis.com.
Namun demikian, pasokan bahan bakar masih terbatas. Tidak ada pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) di Israel, sehingga mitra-mitra kemanusiaan sebagian besar bergantung pada satu pemasok dari Mesir, yang tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan yang diperlukan.
Selain itu, otoritas Israel hanya mengizinkan impor bahan bakar, baik dari Mesir maupun Israel, selama jam operasional terbatas di perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem.
“Akibatnya, pada pekan kedua Juni, mitra-mitra kemanusiaan di wilayah Gaza terpaksa memprioritaskan alokasi bahan bakar untuk layanan penyelamatan nyawa dan menangguhkannya untuk layanan yang kurang krusial,” terangnya.
“Ketika bahan bakar tersedia, generator sering kali kekurangan oli pelumas yang diperlukan untuk beroperasi, dan mendapatkan persetujuan dari Israel untuk itu juga sangat sulit,” tambahnya.
Di Tepi Barat, kantor tersebut menyatakan bahwa tingkat kekerasan tetap berada pada level yang mengkhawatirkan.
OCHA menyebutkan bahwa pasukan Israel pada Minggu (21/6) menembak dan menewaskan seorang anak laki-laki dan seorang pria, yang diduga merupakan bagian dari kelompok yang membakar ban dan melemparkan bom molotov ke arah permukiman di Hebron.
Kantor itu menyatakan bahwa dalam konteks penegakan hukum di seluruh Tepi Barat, penggunaan kekuatan mematikan hanya boleh digunakan sebagai upaya terakhir. Bahkan, para pelaku serangan yang melanggar hukum harus dimintai pertanggungjawaban.
OCHA juga memperingatkan adanya kendala yang terus menghambat akses kemanusiaan dan penyaluran bantuan ke Tepi Barat dan di dalam wilayah tersebut, termasuk Yerusalem Timur.
Selama periode Januari hingga Mei tahun ini, para mitra mencatat 230 insiden akses yang terkait dengan pos pemeriksaan, penutupan jalan, dan berbagai hambatan lainnya.
Hal itu menyebabkan keterlambatan dalam upaya bantuan kemanusiaan dan, dalam beberapa kasus, pembatalan misi kemanusiaan.
Pembatasan yang terus berlangsung terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) dan organisasi-organisasi nonpemerintah berlaku di Gaza maupun Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

