JAKARTA, Holopis.com – Kue Geplak Betawi kini semakin langka, di balik rasanya yang manis dan legit, tersimpan proses pembuatan unik serta nilai tradisi yang kuat.
Di tengah gempuran makanan modern dan menjamurnya aneka jajanan kekinian, salah satu kuliner tradisional Betawi perlahan mulai menghilang dari peredaran.
Namanya Kue Geplak, kue bercita rasa manis dan gurih yang dahulu menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Betawi, terutama dalam prosesi pernikahan adat.
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta pada 22 Juni 2026, berbagai kuliner khas Betawi kembali mendapat perhatian.
Selain kerak telor, soto Betawi, dan dodol yang masih cukup populer, Kue Geplak justru menjadi salah satu warisan kuliner yang keberadaannya semakin langka.
Padahal, kue tradisional ini tidak hanya menyimpan cita rasa khas, tetapi juga sejarah panjang yang melekat erat dengan kehidupan masyarakat Betawi sejak puluhan tahun lalu.
Keunikan Kue Geplak tidak hanya terletak pada rasanya yang legit, melainkan juga pada proses pembuatannya yang tergolong tidak biasa.
Bahkan, cara membuat kue ini menjadi salah satu alasan mengapa semakin sedikit orang yang mau memproduksinya.
Kue Geplak dikenal sebagai jajanan tradisional berbahan dasar tepung beras dan kelapa parut sangrai.
Nama “Geplak” sendiri ternyata berasal dari proses pembuatannya yang dilakukan dengan cara ditepuk-tepuk atau dipadatkan menggunakan tangan saat adonan masih dalam kondisi hangat.
Metode tersebut menjadi ciri khas yang membedakan Kue Geplak dari berbagai jajanan pasar lainnya.
Setelah semua bahan tercampur, adonan harus segera dibentuk dan dipadatkan agar menghasilkan tekstur yang sesuai.
Proses inilah yang melahirkan istilah “menggeplak” yang kemudian menjadi nama resmi kue tradisional tersebut.
Meski terlihat sederhana, tahapan tersebut membutuhkan keterampilan dan pengalaman.
Kesalahan sedikit saja dapat membuat tekstur kue menjadi terlalu keras atau justru mudah hancur.
Salah satu daya tarik Kue Geplak terletak pada penggunaan bahan-bahan yang sederhana.
Kue ini dibuat dari tepung beras yang telah disangrai hingga mengeluarkan aroma harum, kemudian dicampur dengan kelapa parut sangrai.
Jenis beras yang digunakan biasanya memiliki tekstur agak pera.
Beras tersebut terlebih dahulu digiling menjadi tepung sebelum melalui proses penyangraian.
Kelapa parut yang ikut disangrai kemudian dicampurkan dengan tepung beras hingga menghasilkan aroma khas yang menjadi identitas Kue Geplak.
Perpaduan kedua bahan tersebut menciptakan rasa gurih alami yang berpadu dengan manisnya gula.
Hasil akhirnya berupa kue bertekstur padat namun tetap lembut ketika dikunyah.
Karakteristik inilah yang membuat Kue Geplak memiliki cita rasa berbeda dibandingkan jajanan pasar lain yang banyak dijumpai saat ini.
Keunikan lain dari Kue Geplak terdapat pada penggunaan larutan gula sebagai perekat adonan.
Larutan ini biasanya dibuat dari campuran gula pasir dan gula merah yang dimasak hingga larut sempurna.
Setelah siap, larutan gula panas dicampurkan ke dalam adonan tepung beras dan kelapa sangrai.
Campuran tersebut kemudian diaduk hingga merata sebelum dibentuk menjadi kue.
Penggunaan dua jenis gula tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga menghasilkan warna putih kecokelatan yang khas pada permukaan kue.
Rasa manis yang muncul pun tidak terlalu tajam karena diimbangi oleh gurihnya kelapa sangrai.
Kombinasi tersebut menghasilkan sensasi legit yang menjadi ciri utama Kue Geplak Betawi.
Di balik rasanya yang manis, Kue Geplak menyimpan makna budaya yang cukup mendalam bagi masyarakat Betawi.
Kue ini sejak dahulu menjadi bagian dari hantaran dalam prosesi lamaran maupun pernikahan adat Betawi.
Kehadirannya dianggap sebagai simbol hubungan baik dan eratnya silaturahmi antara dua keluarga yang akan dipersatukan melalui pernikahan.
Karena itu, Kue Geplak tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan kebersamaan.
Dalam sejumlah tradisi Betawi, hantaran yang berisi aneka makanan memiliki makna filosofis tersendiri.
Kue Geplak menjadi salah satu elemen yang menggambarkan harapan akan hubungan keluarga yang harmonis dan langgeng.
Nilai budaya tersebut membuat keberadaan Kue Geplak memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar jajanan pasar biasa.
Meski memiliki sejarah dan nilai budaya yang kuat, Kue Geplak kini semakin jarang ditemukan di pasar tradisional maupun sentra kuliner Betawi.
Popularitasnya kalah jauh dibandingkan kuliner Betawi lain seperti kerak telor, dodol, hingga roti buaya yang masih rutin ditampilkan dalam berbagai festival budaya Jakarta.
Selain perubahan selera masyarakat, rumitnya proses pembuatan juga menjadi faktor utama menurunnya produksi Kue Geplak.
Pembuat kue harus bekerja cepat ketika mencampur adonan dengan larutan gula panas.
Setelah itu, adonan perlu dipadatkan secara manual menggunakan tangan agar teksturnya menyatu sempurna.
Proses yang membutuhkan ketelatenan dan tenaga tersebut membuat tidak banyak generasi muda yang tertarik meneruskan tradisi pembuatannya.
Akibatnya, jumlah pembuat Kue Geplak terus berkurang dari tahun ke tahun.
Pengamat budaya Betawi menilai keberadaan Kue Geplak merupakan bagian penting dari identitas kuliner Jakarta yang patut dijaga.
Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, pelestarian makanan tradisional menjadi salah satu cara mempertahankan jejak sejarah dan budaya masyarakat Betawi.
Momentum HUT Jakarta ke-499 dinilai dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengenalkan Kue Geplak kepada generasi muda.
Tidak hanya sebagai makanan khas daerah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menyimpan cerita tentang tradisi, kebersamaan, dan nilai kekeluargaan masyarakat Betawi.
Jika tidak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin Kue Geplak akan semakin sulit ditemukan dan perlahan hanya tersisa dalam catatan sejarah kuliner Jakarta.

