YOGYAKARTA, Holopis.com – Tradisi Tapa Bisu Keraton Yogyakarta saat Malam 1 Suro mewajibkan peserta berjalan 4 km tanpa bicara, makan, minum, maupun merokok.
Malam 1 Suro dalam tradisi masyarakat Jawa selalu identik dengan berbagai ritual dan laku spiritual.
Di Keraton Yogyakarta, salah satu tradisi yang masih terus dijaga hingga saat ini adalah Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, sebuah prosesi sakral yang mengajak peserta melakukan perjalanan dalam keheningan sebagai bentuk introspeksi diri.
Tradisi ini telah berlangsung sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II dan menjadi bagian penting dari peringatan pergantian tahun Jawa.
Setiap memasuki Malam 1 Suro, ribuan masyarakat dari berbagai daerah biasanya memadati kawasan Keraton Yogyakarta untuk mengikuti maupun menyaksikan prosesi tersebut.
Tapa Bisu secara harfiah berarti “bertapa dalam diam”.
Sesuai namanya, seluruh peserta diwajibkan menjaga keheningan selama prosesi berlangsung.
Mereka tidak diperkenankan berbicara, bercanda, atau mengeluarkan suara yang tidak diperlukan sepanjang perjalanan.
Tak hanya itu, terdapat sejumlah pantangan lain yang harus dipatuhi.
Peserta juga dilarang makan, minum, dan merokok selama mengikuti ritual.
Larangan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam filosofi Jawa, pengendalian diri terhadap ucapan dan hawa nafsu dianggap sebagai salah satu cara untuk membersihkan batin serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Rangkaian Tapa Bisu diawali dengan pembacaan tembang macapat oleh para abdi dalem di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta.
Tembang-tembang tersebut berisi doa, nasihat kehidupan, serta harapan agar masyarakat memperoleh keselamatan dan keberkahan pada tahun yang akan datang.
Setelah itu, lonceng Kyai Brajanala yang berada di Regol Keben dibunyikan sebanyak 12 kali sebagai tanda dimulainya prosesi.
Bunyi lonceng tersebut menjadi simbol pergantian waktu sekaligus penanda bagi peserta untuk memulai perjalanan spiritual mereka.
Rombongan kemudian bergerak mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta atau yang dikenal dengan istilah mubeng beteng.
Jalur yang ditempuh memiliki panjang sekitar 4 kilometer dan melewati sejumlah titik di kawasan pusat Kota Yogyakarta.
Di barisan paling depan biasanya terdapat para abdi dalem yang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap tanpa alas kaki.
Mereka membawa bendera Merah Putih dan panji-panji Keraton sebagai simbol penghormatan terhadap negara dan institusi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Suasana selama prosesi berlangsung terasa sangat berbeda dibandingkan kegiatan masyarakat pada umumnya.
Ribuan orang berjalan beriringan tanpa suara.
Tidak terdengar percakapan, gelak tawa, maupun aktivitas lain yang dapat memecah keheningan.
Kondisi inilah yang sering membuat banyak orang merasakan suasana mistis sekaligus khidmat saat menyaksikannya.
Namun di balik kesan yang dianggap “bikin merinding”, Tapa Bisu sejatinya mengandung pesan moral yang mendalam.
Keheningan selama perjalanan menjadi sarana untuk merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir.
Peserta diajak mengevaluasi diri, mengakui kesalahan, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik pada tahun berikutnya.
Bagi Keraton Yogyakarta, tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan juga warisan nilai luhur yang mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, dan pengendalian diri.
Karena itu, Tapa Bisu tetap dipertahankan hingga sekarang dan menjadi salah satu tradisi Malam 1 Suro yang paling dikenal di Indonesia.
Keunikan prosesi yang mewajibkan peserta diam total serta melarang makan, minum, dan merokok membuat Tapa Bisu selalu menarik perhatian publik setiap tahunnya.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa warisan budaya Jawa masih hidup dan terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Yogyakarta.


