JAKARTA, Holopis.com – Jelang demo di Jakarta, Kunto Aji menyerukan ajakan kepada publik untuk melawan buzzer di media sosial dengan cara sederhana.
Musisi Kunto Aji turut menyuarakan pandangannya menjelang aksi demonstrasi yang akan digelar di kawasan Bundaran HI pada 12 Juni 2026.
Melalui media sosial, ia mengajak publik untuk lebih aktif melawan akun-akun yang dianggap sebagai buzzer di ruang digital dengan cara sederhana, yakni melakukan block dan report.
Ajakan tersebut disampaikan Kunto Aji melalui unggahan di platform Threads pada 12 Juni 2026.
Dalam unggahannya, ia menyoroti maraknya akun-akun yang dinilai kerap memicu gangguan percakapan publik di media sosial, terutama di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu sosial dan politik.
Ia menekankan bahwa cara paling efektif untuk merespons akun-akun tersebut bukan dengan berdebat atau memberi perhatian, melainkan dengan mengabaikan dan membatasi interaksi.
“Lawan buzzer dengan block report. Jangan dikasih impresi sama sekali,” tulis Kunto Aji dalam unggahan yang kemudian ramai dibagikan ulang oleh warganet.
Pernyataan tersebut segera menjadi perhatian publik, terutama di kalangan pengguna media sosial yang aktif mengikuti perkembangan isu menjelang aksi demonstrasi.
Banyak warganet menilai ajakan tersebut sebagai bentuk sikap tegas dalam menjaga kualitas ruang diskusi digital agar tetap sehat dan tidak dipenuhi provokasi.
Sejumlah pengguna media sosial juga mengaku telah lebih dulu melakukan langkah serupa sebelum unggahan Kunto Aji viral.
Mereka menyebut bahwa fenomena akun anonim atau tidak dikenal yang kerap muncul dalam percakapan daring memang sudah lama menjadi perhatian.
“Ini yang aku lakuin sebulan terakhir. Block,” ujar akun @tiaracahyaningtyas dalam kolom komentar yang ramai diperbincangkan.
Warganet lainnya juga mengungkapkan pengalaman serupa terkait meningkatnya konten yang mereka anggap sebagai bagian dari pola opini terarah di media sosial.
Mereka menyebut bahwa fitur block dan report menjadi cara paling praktis untuk mengurangi gangguan di linimasa.
“Iya akhir-akhir ini di TL masuk melulu buzzer, block report,” tulis akun @sikarinaa09.
Ada pula warganet yang mengaku memilih untuk berhenti mengikuti sejumlah akun yang dianggap tidak relevan atau terlalu sering memicu perdebatan tidak produktif.
“Kenalanku tak unfol mas, bisa-bisanya update semangat Presiden,” tulis akun @xsafira.
Ajakan Kunto Aji tersebut muncul di tengah meningkatnya aktivitas percakapan publik di media sosial menjelang rencana aksi demonstrasi di Jakarta.
Dalam situasi seperti ini, ruang digital kerap menjadi arena diskusi yang ramai, namun juga tidak jarang diwarnai dengan perdebatan panas hingga penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.
Fenomena “buzzer” sendiri sudah lama menjadi istilah populer di Indonesia untuk menggambarkan akun-akun yang dinilai memiliki pola komunikasi tertentu dalam membentuk opini publik.
Meski demikian, istilah tersebut kerap digunakan secara luas dan tidak selalu memiliki definisi yang baku.
Dalam konteks ini, ajakan untuk melakukan block dan report dipahami sebagian warganet sebagai upaya menjaga pengalaman bermedia sosial agar tetap nyaman dan bebas dari gangguan.
Namun, sebagian lainnya menilai bahwa langkah tersebut juga perlu dibarengi dengan literasi digital agar pengguna tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar.
Hingga berita ini diturunkan, unggahan Kunto Aji masih terus mendapat respons dari warganet dan menjadi bahan diskusi di berbagai platform media sosial.
Banyak yang menilai bahwa suara dari figur publik seperti musisi turut memberi pengaruh dalam membentuk sikap pengguna internet terhadap fenomena yang terjadi di ruang digital.
Sementara itu, menjelang aksi demonstrasi di Bundaran HI, percakapan di media sosial diperkirakan masih akan terus meningkat, seiring dengan semakin banyaknya pihak yang menyuarakan pendapatnya terkait berbagai isu yang berkembang di masyarakat.


