HOLOPIS.COM, JAKARTA – Upaya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi tantangan besar di tengah meningkatnya ketidakpercayaan politik dan ancaman konflik kawasan. Meski kesepakatan baru disebut berpotensi membuka akses Iran terhadap dana luar negeri yang dibekukan akibat sanksi AS, sejumlah elite Teheran masih meragukan niat Washington.
Kesepakatan itu dinilai bisa menjadi jalan menuju pembahasan lanjutan terkait program nuklir Iran. Namun, di dalam negeri Iran, banyak pihak khawatir kesepakatan itu hanya akan memberi keuntungan strategis bagi AS dan Israel sebelum kemungkinan serangan militer baru dilancarkan.
Nicole Grajewski, asisten profesor di Pusat Penelitian Internasional Sciences Po, menilai para pemimpin Iran tampaknya tidak ingin kesepakatan dipersepsikan sebagai bentuk penyerahan diri di bawah tekanan militer.
“Agar kesepakatan tersebut dapat diterima secara politik di dalam negeri, Teheran kemungkinan perlu membingkainya bukan sebagai penyerahan diri di bawah tekanan militer tetapi sebagai stabilisasi yang terkelola yang mempertahankan garis merah kedaulatan inti,” kata Grajewski kepada Al Jazeera, dikutip pada Rabu, (27/5/2026).
Menurutnya, Iran kemungkinan tetap ingin mempertahankan sebagian kemampuan pengayaan uranium dan tidak menyerahkan seluruh persediaan nuklirnya secara langsung.
“Itu mungkin berarti mempertahankan beberapa bentuk kemampuan pengayaan untuk saat ini, menghindari penyerahan segera persediaan, mengamankan sanksi atau pengurangan aset yang berarti, dan mempertahankan struktur pencegahan regional, setidaknya secara formal di luar kesepakatan,” jelas Grajewski.
Di tengah proses diplomasi tersebut, berbagai kelompok politik dan militer di Iran menunjukkan sikap keras terhadap kemungkinan kompromi dengan Washington. Mulai dari kalangan moderat di pemerintahan hingga faksi garis keras di sektor keamanan sama-sama menegaskan Iran tidak akan menerima kesepakatan yang dianggap sebagai bentuk menyerah.
Adapun Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah Iran ingin meyakinkan dunia internasional bahwa negaranya tak berniat mengembangkan senjata nuklir maupun menciptakan instabilitas kawasan.
Namun, pernyataan berbeda datang dari tokoh militer berpengaruh Iran. Komandan penerbangan Islamic Revolutionary Guard Corps, Majid Mousavi, menegaskan sikap keras terhadap AS dan Israel melalui unggahan di media sosial.
Mousavi menyatakan dirinya akan mengikuti arahan Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang baru, yang dalam pesan Idul Adha menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah tak akan lagi menjadi ‘perisai’ pangkalan AS.
Ia juga mengulang prediksi bahwa Israel tidak akan bertahan dalam 15 tahun mendatang.
Sementara itu, Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dan salah satu tokoh penting dalam konflik regional Iran, muncul di depan publik untuk pertama kalinya pada Senin. Ia meminta angkatan bersenjata Iran memprioritaskan “kekalahan” musuh di tengah situasi yang semakin memanas.
“Amerika terlalu banyak bicara dan terus mengubah cerita mereka dalam sekejap. Kami telah mengatakan,” katanya.
Pernyataan-pernyataan keras dari elite militer Iran menunjukkan bahwa jalur diplomasi dengan AS masih dibayangi ketegangan besar. Di tengah negosiasi yang terus berjalan, ketidakpercayaan antara kedua pihak tetap menjadi hambatan utama menuju kesepakatan jangka panjang.

