HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harga emas dunia yang mulai melemah membuat pemerintah Indonesia ikut menyesuaikan harga acuan ekspor dan referensi emas untuk akhir Mei 2026.
Melalui keputusan terbaru, Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas sebesar US$ 150.555,29 per kilogram. Nilai ini turun sekitar 1,72 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai US$ 153.194,87 per kilogram.
Tidak hanya itu, Harga Referensi (HR) emas juga ikut turun menjadi US$ 4.682,80 per troy ounce dari sebelumnya US$ 4.764,90 per troy ounce.
Ketetapan tersebut berlaku untuk periode 15-31 Mei 2026 dan tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1343 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.
Tommy Andana mengatakan penurunan harga acuan emas terjadi akibat koreksi harga emas global dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Tommy, penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas dunia.
“Penurunan HPE dan HR emas dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas sebagai aset (non-yield asset), turut memicu turunnya HPE dan HR emas,” ujarnya dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com pada Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, saat ini emas sedang berada dalam fase koreksi dan konsolidasi setelah sebelumnya mengalami kenaikan cukup tinggi. Kondisi itu membuat banyak investor melakukan aksi ambil untung atau profit taking.
Penetapan HPE dan HR emas sendiri dilakukan berdasarkan masukan teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang mengacu pada harga pasar global dari London Bullion Market Association.
“Penetapan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian,” kata Tommy.
Penurunan harga acuan ini diperkirakan bakal menjadi perhatian para pelaku pasar dan investor emas, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian.



